Pendekar Sendang Drajat
Oleh : Viddy AD Daery
Di masa-masa senja kekuasaan Kerajaan Majapahit Raya, wilayah Sendang Duwur di daerah Kerajaan Pamotan-Tuban ( kini wilayah itu bernama Lamongan ) adalah tanah perdikan (daerah otonom) yang dikepalai seorang perajin keris yang sangat piawai, yakni Empu Suro bersama rakyatnya yang juga terkenal mempunyai kepandaian membuat keris, kerajinan alat-alat rumah tangga dan perhiasan dari emas,yang mengabdi kepada Kerajaan Majapahit, terutama dinasti akhir, yakni antara Prabu Bre Kertabumi dan Prabu Girindrawardhana.
Keris-keris sakti pesanan Kerajaan Majapahit dikerjakan di sini, misalnya keris sakti paling terkenal, yakni “Nogososro” dan “Sabuk Inten”. Sedang perhiasan-perhiasan yang dikenakan oleh raja dan para bangsawan juga banyak yang dipesan dan dikerjakan oleh rakyat Sendang Duwur.
Dengan runtuhnya Majapahit yang telah berkuasa selama ratusan tahun, berakibat kacaunya tata pemerintahan dan situasi Negara. Keadaan khaos dan “tanpa pemerintahan” menimbulkan kehidupan yang tanpa aturan, sehingga mengacaukan sendi-sendi kehidupan. Tak ada lagi hukum, tak ada lagi moral, tak ada lagi tata susila. Candi-candi diselewengkan, bukan lagi sebagai tempat ibadah keagamaan Hindu, akan tetapi dipakai sebagai pusat kekuasaan pendeta-pendeta palsu yang mengaku sebagai pemangku urusan keagamaan, sedang pendeta-pendeta yang asli dibunuh.
Para penjahat berkedok agama itu memeras rakyat yang beribadah dengan “Derma” yang dipungut sangat tinggi, dan dalam setiap upacara keagamaan menuntut persembahan sejumlah perawan ayu untuk dibuat “pesta” para pendeta palsu tersebut.
Muncullah cikal-bakal upacara kesenian Tayuban, Tandakan, Gambyongan, Gong-gongan dan semacamnya, yakni berdalih upacara keagamaan meminta rezeki kesuburan pada dewa, tapi dengan cara para perawan ayu tadi disuruh menari, lantas setelah para pendeta palsu dan bangsawan pejabat kerajaan mabuk arak, lalu memilih para penari tersebut untuk “diperawani”. Mereka menyebut hal itu sebagai syarat ritus kesuburan.
Demikianlah, Negara dalam keadaan tanpa hukum, rakyat ditindas tanpa perlindungan. Diperas pejabat lewat pajak upeti yang tinggi, maupun dirampok oleh benggol-benggol perampok yang merajalela tanpa takut dibasmi oleh tentara kerajaan, karena kerajaan yang sebenarnya, pamornya telah runtuh, pejabatnya lebih suka menumpuk kekayaan sendiri daripada mengurusi kemakmuran rakyatnya, karena kerajaan tak lagi punya wibawa yang pantas disegani.
Dalam keadaan kacau seperti itu, putra Prabu Brawijaya dari garwa keturunan Indochina (Champa) yang beragama Islam, diselamatkan oleh para abdi pengawalnya yang beragama Islam dibawa menyingkir ke daerah Glagah Wangi alias Demak yang sudah banyak dimasuki dan didiami oleh para pedagang dari Gujarat (India), Sinkiang (China daratan), Champa (Indochina) dan beberapa daerah Jazirah Arabia yang beragama Islam. Sambil berdagang, mereka menyebarkan agama Islam yang diterima dengan baik oleh penduduk Demak yang bertipe pesisiran dan mempunyai watak terbuka dan jujur.
Dan dengan dukungan para wali, sang putra tersebut setelah dewasa,diangkat sebagai raja baru yang berkedudukan di Demak, bergelar Raden Patah, raja Islam pertama yang mempunyai garis keturunan dari Majapahit. Kesultanan Demak ini kemudian menyebarkan agama Islam ke seluruh Pulau Jawa terutama Jawa Tengah dan Jawa Timur . Berkenaan itu, di tempat-tempat strategis, didirikanlah pesantren kerajaan yang terkenal dengan sebutan “Kasunanan”, di mana seorang wali atau sunan dilantik sebagai penanggung jawabnya, misalnya Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Giri di Gresik, Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Drajat dan Sunan Sendang Duwur di Sendang Duwur, Lamongan.
Khususnya Sunan Sendang Duwur, selain menyebarkan agama Islam, juga menangani dan mengarahkan kepandaian penduduk Sendang Duwur yang piawai dalam kerajinan dan pahat-memahat, hasil ajaran Empu Suro di masa lalu, diarahkan untuk membentuk dan mengerjakan kerajinan emas yang lebih bernapaskan Islam dan tidak lagi Hinduisme.
Yang dulunya membuat keris, perisai dan pedang, serta sumping dan mahkota kebangsawanan, kini diarahkan agar membuat gelang, kalung, binggel dan anting-anting serta cincin yang Islamis, yakni menanggalkan bentuk orang-orangan atau dewa, dan digantikan dengan sulur-suluran, tanam-tanaman dan berbagai bentuk bunga-bungaan maupun motif hiasan paralel dan simetris.
Bahkan candi Hindu di Bukit Patunon, Sendang Duwur, diubah oleh Sunan Sendang dan dibangunnya masjid. Agar tidak terlalu menyolok di mata penduduk yang masih lemah Islamnya, masjid tersebut juga dibuat dari batu dan kayu layaknya bentuk arsitektur candi, menyesuaikan lingkungan masjid yang merupakan kompleks percandian, akan tetapi ukirannya dibentuk bernapaskan Islam, seperti motif bunga, tanaman dan huruf Arab pego secara kaligrafis.
Di masa itulah, sekitar tahun 1565-an,hiduplah seorang pendekar silat berusia 30-an tahun, yang mumpuni dalam olah kanuragan, olah perkelahian. Dialah Raden Ahmad yang lebih dikenal dengan sebutan “Pendekar Sendang Drajat”, lantaran ibunya masih kerabat atau keturunan Sunan Sendang Duwur, sedangkan ayahnya adalah kerabat Sunan Drajat.
Raden Ahmad mempunyai kesukaan mengembara untuk mereguk pengalaman kehidupan yang seluas-luasnya, menimba ilmu agama di pesantren-pesantren yang ditemuinya di perjalanan, untuk menyebarkan agama Islam di daerah yang masih kuat gaung Hindu-Budhanya, juga menolong orang-orang yang tak berdaya dari tindakan kezaliman dan kekejaman penjahat dan kaum rudapeksa.
Ia senang terhadap keindahan pemandangan alam, karena dengan demikian ia bisa merasakan kebesaran Allah yang menciptakan keindahan-keindahan. Ia sangat benci pada manusia yang suka merusak keselarasan dan ketenangan kehidupan yang dicipta begitu indah oleh Yang Mahakuasa.
*****
Raden Ahmad sedang mengagumi keindahan laut Pantai Utara dari Hutan Gunung Siman yang indah ketika ia tersadar bahwa bayang-bayang matahari telah menunjukkan waktu shalat Dzuhur tiba. Ia pun mendekati kudanya yang tengah merumput, lalu dinaikinya, “Ayo Sembrani, kita turun gunung, mencari polaman untuk mengambil air wudhu.”
Kuda Persi yang gagah pemberian seorang tamu dari jauh yang bertandang ke ayahandanya, Kyai Nur Iman, guna belajar ilmu bela diri dan ilmu agama itu, di-cengklak-nya menuruni bukit dan menuju polaman atau bendungan kecil sumber air di bawah Gunung Siman.
Tetapi alangkah terkejutnya manakala ia melihat sesosok tubuh wanita muda tergeletak lemas dan nyaris telanjang bulat. “Astaghfirullah,” serunya menyebut nama Tuhan, dan ia segera mengambil sarung dari kantong yang diikat di pelana kuda.
Dengan hati-hati, ia mendekati tubuh yang tergolek lemas itu dan segera diselimutinya dengan sarungnya. Ia mendekatkan telinganya ke dada wanita itu, dan didengarnya napas yang sudah sangat lemah.
“Nyai, eling, Nyai,” bisiknya di telinga tubuh yang kian terasa kaku itu. “Nyai, nyebut, Allah, Allah, Allah!”
Mulut wanita itu bergerak-gerak, Raden Ahmad segera menekan-nekan perut wanita tersebut agar napas bantuan darurat bisa menyelamatkannya.
“Nini… Ohh… terkutuklah kau Suradadu…,” ia terbatuk dan keluarlah air dari mulutnya, tapi kemudian ia kembali melemah. “Allah… Allah… Allah…,” dan tiba-tiba saja tubuhnya telah kaku.
“Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun…,” sebut Raden Ahmad dengan sedih, ia pun segera membopong tubuh yang padat itu keluar dari pinggir polaman.
Pada saat itulah, terdengar jeritan seorang anak kecil. Dan ketika ia menoleh, tampak olehnya seorang bocah berusia sepuluh tahunan menjerit histeris, “Bapaaaaaaaaaak… Toloooooooooooong…!!!”
Raden Ahmad baru saja meletakkan tubuh mayat wanita muda itu di atas batu besar di tepi polaman, tatkala ia mendengar desir angin, dan dengan kepandaian kanuragannya ia gerakkan tangannya memukul sesuatu yang datang, yang ternyata sebuah batu yang disambitkan kepadanya oleh si anak laki-laki tadi. Batu itu dengan mudah di-tabok-nya kembali dan melayang membentur pohon beringin di tepi polaman sampai beringin itu bergetar dan gugurlah beberapa bunga dan bijinya.
Sejenak dipikirnya, sambitan si anak lelaki tadi bukanlah sambitan anak-anak kecil pada umumnya, sambitan yang keras seperti itu pasti dilakukan oleh seorang anak yang sudah diajari ilmu bela diri dan ilmu kesaktian, sebetapapun rendahnya mengingat umurnya yang juga masih sangat muda.
Ia meloncat mengejar si anak yang melihat batu sambitannya bisa dipukul kembali lantas berlari sembari menjerit-jerit.
Raden Ahmad terpaku, siapakah anak tadi? Apakah wanita muda yang berusia sekitar dua puluh
Lalu kasus apa kiranya yang menimpa keluarga ini? Ah, Raden Ahmad lantas menduga kasus dendam-mendendam, sebab biasanya dalam dunia kependekaran selalu dikepung persoalan dendam-mendendam dengan pendekar lainnya. Tapi pendekar macam apakah yang begitu pengecut, tidak berani menyelesaikan urusan dengan cara laki-laki, namun memilih menyerang pihak yang tak berdaya?
“Sungguh pengecut,” gumam Raden Ahmad.
“Kaulah pendekar yang paling pengecut yang pernah berseteru denganku,” teriak seorang laki-laki berumur sekitar empat puluh tahun yang gagah, tapi tidak mengesankan seorang pendekar, sebab pakaiannya seperti seorang petani yang baru saja menggarap sawah.
Raden Ahmad terkejut demi tanpa sesadarnya, telah datang seseorang yang segera meloncat ke tubuh mayat wanita yang cantik dan padat itu—kontras dengan kesunyian Hutan Siman yang lebat gung liwang liwung.
Lelaki kekar itu memeluk mayat wanita tersebut, dan giginya pun gemeretak. Ia segera berteriak keras dan kemudian melepaskan tubuh wanita itu, lalu meloncat melancarkan serangan ke arah Raden Ahmad yang masih berdiri kaku di tepi jalan berbatu.
“Sabar Kisanak, lihat dulu persoalannya,” sembur Raden Ahmad sambil menangkis serangan pendekar petani yang sedang marah itu. Benturan tangan keduanya sama-sama kuat, sehingga masing-masing terpental ke belakang. Dan karena keduanya sama-sama pendekar, langsung bisa mengatur posisi kuda-kuda.
“Kali ini persoalannya lain, karena kau bunuh seorang ibu yang sangat dibutuhkan kehadirannya dalam kehidupan anak-anakku. Hiaaaaat….” Pendekar petani yang “mata gelap” itu segera menghajar Raden Ahmad dengan pukulan-pukulan yang amat rumit jurus-jurusnya, pertanda ia adalah seorang pendekar yang sudah cukup tinggi ilmu silatnya.
Akan tetapi, karena Raden Ahmad adalah pendekar mumpuni yang mewarisi ilmu-ilmu silat ayahandanya, paman-kakeknya Sunan Sendang Duwur dan Sunan Drajat dalam ilmu kesaktian ditambah berdasarkan munajad dan takwa kepada Allah, maka ia selalu bisa mengimbangi kekuatan serangan pendekar tadi.
Bahkan ia sebenarnya bisa saja langsung mengirimkan jurus balasan yang mematikan untuk menyudahi perkelahian. Akan tetapi Raden Ahmad tidak mempunyai alasan yang tepat untuk membunuh petani yang cuma salah paham itu, karena itu yang ia lakukan adalah melayani jurus tangan itu selama mungkin dengan harapan agar pendekar petani itu akhirnya lelah dan dengan demikian bisa dibekuknya, agar bisa diberi keterangan yang sebenarnya.
Karenanya, ketika semua jurus si pendekar petani telah dikuras semuanya, ia pun memukul dada si pendekar petani dengan pukulan keras yang tidak mematikan tapi sanggup merontokkan daun beringin dari tangkainya. Pendekar petani itu terhuyung-huyung dan sebelum bisa berdiri tegak, dihantamlah kakinya dengan ilmu sepak kuda dan terjerembablah pendekar petani di tanah.
Dengan tenaga yang semakin melemah, pendekar petani yang berilmu cukup tangguh itu kembali berjumpalitan dan kemudian dengan menumpukan kekuatan pada tangannya, ia meloncat berdiri dan kembali pasang kuda-kuda.
“Kisanak, dengarlah, aku sama sekali bukan musuhmu.”
“Jangan sombong kau pendekar bersorban hitam, aku masih bisa melayanimu,” sahut pendekar petani yang masih belum sadar akan kekhilafannya itu.
“Dengar, aku bukanlah pembunuh wanita atau istrimu itu.”
“Bagaimana aku bisa memercayai mulutmu?”
“Demi Allah, aku menemukan tubuh istrimu dalam keadaan sekarat, dan kudengar mulutnya menyebut nama Nini dan Suradadu.”
“Nini? Suradadu?” seru pendekar petani dengan terperanjat, dan sikapnya tidak lagi pasang kuda-kuda.
“Siapakah Nini dan Suradadu itu?” tanya Raden Ahmad segera.
“Nini adalah anakku yang kedua… Ah, di manakah anak itu sekarang? Suradadu adalah benggol penjahat bandar dadu dari Dusun Prapatan Godog, yang pernah kukalahkan di hadapan teman-temannya dalam perkelahian setelah aku tahu bahwa kekalahanku main dadu terus-menerus itu karena ia ternyata licik sebab memakai dadu palsu. Itu semua terjadi dua puluh tahun yang lalu ketika aku masih nakal-nakalnya sebagai pendekar muda dari Ngulakan,” kisah pendekar petani itu dengan mata menerawang.
“Sudah sepuluh tahun aku mengundurkan diri dari dunia perkelahian yang tak pernah menenteramkan hati semenjak aku menikah dengan ibunya anak-anak, kembang dari Desa Brangsi, dan membuka tanah pertanian di daerah sini, dan dalam se-sasi-nya, lima hari kupergunakan pergi ke Pantai Brondong untuk mencari ikan laut yang sangat gampang ditemui di perariran sekitar pantai, terutama bila tidak musim angin besar.”
“Marilah jenazah istri Anda kita urus,” kata Raden Ahmad memutus omongan, sebab ia sadar belum shalat Dzuhur karena peristiwa yang barusan terjadi. “Aku mau shalat Dzuhur dulu, dan nanti jenazah istri Anda kita shalati.”
“Terima kasih, Kyai Pendekar. Oh ya, kalau boleh tahu, siapakah dan dari manakah Anda kiranya?”
“Aku pengelana dari Tunggul-Kranji sebelah dalam, ibuku berasal dari Sendang Duwur dan ayahku dari Drajat.”
“Ya Gusti, apakah Anda Pendekar Sendang Drajat yang terkenal itu?”
“Ah, itu ‘
“Begitulah, Raden, nama Anda sudah kudengar semasa aku masih
Tiba-tiba terdengar tangis seorang anak lelaki yang sejak tadi bersembunyi dari balik rimbunan perdu dan dengan demikian mengikuti semua peristiwa itu, dan kini meledakkan tangisnya.
“Suryo, sini Nak,
Suryo yang disebut tadi muncul dari kerimbunan gerumbul dan langsung berlari menyerbu mayat ibunya, dan tangisnya pun berkepanjangan.
Raden Ahmad menundukkan kepala karena terharu. Ia segera turun ke polaman dan mengambil air wudhu. Selesai wudhu, dilihatnya pendekar petani yang ia lupa menanyakan namanya itu telah membopong mayat istrinya dan berkata kepada Raden Ahmad, “Mari Raden, pergi ke gubuk saya dan shalatlah di
Raden Ahmad menuntun kudanya mengikuti pendekar petani yang membopong mayat istrinya diikuti anaknya yang masih menangis sesenggukan sepanjang perjalanan menuju arah barat pedalaman Hutan Siman dan naik ke dataran tinggi, dan akhirnya sampai di rumah sederhana yang cukup besar, atapnya dari ijuk kelapa dan halamannya luas, di mana dari halaman itu bisa melihat ke jalan berbatu yang membelah hutan.
Raden Ahmad shalat Dzuhur, lalu meminta mayat istri pendekar petani asal Ngulakan itu agar segera dimandikan dan dikafani, lantas dihadapkan ke kiblat untuk dishalati.
“Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih, Pemaaf dan Penyayang, terimalah makhluk-Mu yang
Setelah itu, ia membantu menggali kuburan di belakang rumah pendekar petani, dan membantu menguburkan mayat istri yang
Hari telah mulai sore manakala semuanya selesai, dan mereka beristirahat kepayahan di amben lebar di muka rumah. Suasana sangat murung dan duka, akan tetapi pendekar yang tabah itu toh masih saja bersibuk diri menyediakan nasi jagung yang digarami dan ikan bambangan kering (ikan laut yang dikeringkan) dengan sayur daun ketela.
“Janganlah merepotkan diri, Kisanak,” ujar Raden Ahmad.
“Kita semua lapar, belum makan,” jawab pendekar petani yang akhirnya diketahui bernama Ki Suryadi. “Lagi pula, ini untuk slametan arwah isrtriku.”
“Ah, jangan, nanti makanan ini jadi haram hukumnya. Dalam agama Islam yang ajarannya benar, tidak ada tradisi slametan, itu memang peninggalan ajaran Hindu yang masih kuat memengaruhi masyarakat.”
“Begitukah, Raden? Baiklah, ini sekadar suguhanku kepada Anda sebagai tamu yang telah banyak membantuku, ini hanya makan siang yang telat saja. Marilah kita santap hidangan sederhana ini. Di rumah Raden pastilah hidangannya enak-enak.”
“Tapi hidupku lebih banyak dalam pengembaraan. Dan dalam perjalanan, makan daun-daunan, buah-buahan itu hal yang biasa, Ki. Paling mewah bila bisa menangkap kijang, atau dijamu orang-orang yang kukunjungi, seperti di rumah Ki Suryadi ini.”
“Marilah segera dinikmati.”
“Mana si Suryo tadi?”
“Biarlah ia makan sesudah kita.”
“Jangan, Ki. Biarlah ia makan bersama kita di amben ini. Ngger Suryo, sini Ngger!”Raden Ahmad memanggil Suryo yang duduk merenungi nasib ibunya, juga adiknya yang belum pulang.
“Bapak, apakah Nini juga dibunuh oleh penjahat-penjahat itu?” tanya Suryo dengan mata yang terus berleleran air mata.
“Ayolah makan dulu, biar kuat badan kita, nanti kita cari adikmu,” kata ayahnya. Mereka pun makan dalam kebisuan, dan dalam keadaan sedih dan murung, mereka tak bisa makan banyak sehingga hanya sedikit nasi jagung itu tersentuh.
Selesai makan, Ki Suryadi melinting rokok klobot, dan mempersilakan Raden Ahmad untuk merokok, tetapi Raden Ahmad menyatakan tidak merokok.
“Berapa bulan sekali Raden pulang kembali ke rumah?” tanya Ki Suryadi sambil mengembuskan asap rokok klobotnya.
“Rata-rata empat bulan sekali, atau bisa juga enam bulan sekali. Itu juga untuk menghindarkan keributan jika ada musuh-musuhku yang mencariku ke pesantren Ayahanda. Lebih baik aku selalu mengembara, dengan demikian bila musuh-musuhku ingin menemuiku biar ketemu di jalan.”
“Begitulah risiko kehidupan pendekar, Raden. Aku sebenarnya sudah bosan, dan sudah merasa tenang ketika bisa menyembunyikan diri di tanah pertanian yang sunyi ini. Tapi dengan dibunuhnya istriku, dan mungkin juga dibawanya anakku lari oleh Surodadu, barangkali aku akan terjun lagi ke kancah persilatan.”
“Aku menduga kuat,mungkin putri Ki Suryadi dibawa oleh Surodadu, sebab mulut Nyai Suryadi tadi kudengar menyebut nama Nini dan Surodadu.”
“Aku memang juga menduga kuat demikian, Raden Pendekar, karena itu aku akan beradu nyawa habis-habisan dengan Surodadu demi nasib putriku. Yang kupikirkan adalah bagaimana Suryo ini kutitipkan,” keluh Ki Suryadi.
“Kenapa tidak dititipkan kepada nenek atau kakeknya?”
“Ayah-ibuku sudah meninggal, ya karena dibunuh oleh penjahat-penjahat yang boleh jadi juga musuh-musuhku, juga musuh Ayah dalam perdagangan. Ayahku adalah pedagang sapi yang cukup mampu, dulunya. Adapun kalau kutitipkan pada mertuaku, aku khawatir pendidikan silatnya tidak ada yang melanjutkan mengajari, sebab mertuaku bukan jago silat, mereka hanya petani biasa.
“Bagaimana kalau kutitipkan saja ke pesantren Ayahanda? Di
Mata Ki Suryadi bersinar-sinar. “Itu usul yang bagus, Raden. Tapi apa syarat untuk masuk pesantren ayahanda Raden… Siapa nama beliau?”
“Kyai Nur Iman.”
“Ya, apakah syarat masuk ke pesantren Kyai Nur Iman begitu mudah?”
“Tentu saja, Ki. Ceritakanlah peristiwa ini dan juga pertemuan Ki Suryadi dengan saya, Ayahanda pasti akan menerima Angger Suryo dengan baik. Apakah Suryo sudah bisa shalat dan mengaji?”
“Tentunya tidak, Raden. Bahkan saya sendiri tidak mengerti cara-cara shalat, padahal saya dilahirkan dalam keluarga yang sudah beragama Islam. Akan tetapi begitulah, Islam peninggalan nenek moyang yang masih bercampur baur dengan kepercayaan Hindu.”
“Nah, karena itulah, sangat tepat jika Suryo kita kirim dan dipondokkan di
“Aku berjanji jika sudah kutemukan Genduk Nini, aku akan ikut mondok di pesantren ayahanda Raden, bersama Nini. Oh ya, apakah kaum perempuan juga boleh mondok?”
“Tentu saja, Ki. Nanti di samping diajar oleh Ayahanda, khusus santri wanita juga dibimbing oleh We’e dalam bidang kewanitaan dan kerumah-tanggaan Islam.”
“We’e?”
“Ya, keturunan Sunan Drajat kalau memanggil ibundanya adalah “We’e”, mungkinlah ada susur galur Bugis dan Aceh dalam nenek moyang kami...ya mungkin saja !? Di samping susur galur Arab dan Champa...seperti menurut penuturan dan dongengan para orang tua kami.”
Dan matahari pun tenggelam di ufuk barat. Pemandangan di Hutan Siman indah, tapi sunyi ngelangut. Raden Ahmad mengumandangkan azan Maghrib. Dan kemudian mengajari Ki Suryadi dan si Suryo dasar-dasar berwudhu di padasan pancuran sebelah rumah yang airnya ditimba oleh Suryo dari polaman di bawah bukit tadi.
Kemudian, mereka diajari gerakan-gerakan dasar shalat meskipun belum dengan doanya. Mereka pun diajak Raden Ahmad untuk shalat berjamaah di amben lebar yang tadi dipakai untuk makan siang, setelah semua hidangan dibersihkan oleh Suryo.
Malam turun semakin gelap. Dan kesunyian memberi bunyi-bunyian yang mengharukan dari desir desau angin dan jangkerik yang berderik-derik. Ki Suryadi menyalakan oncor.
Raden Ahmad mengambil kitab suci al-Quran yang berukuran kecil dari dalam saku baju jubahnya dan membacanya di amben yang telah diterangi oleh lampu oncor yang telah disulut oleh Ki Suryadi.
Suara Raden Ahmad yang merdu melantunkan ayat-ayat suci al-Quran ngelangut menembus kesepian malam. Ki Suryadi dan Suryo duduk khidmat mendengarkan sambil merasakan suasana yang tenang dan sejuk tercipta oleh wibawa ayat-ayat suci. Apalagi kalau mereka memahami arti dan makna kandungan ayat-ayat suci tersebut.
Raden Ahmad terus mengaji hingga tiba waktu Isya’ dan kembali mengajak Ki Suryadi dan putranya untuk berjamaah shalat Isya’.
“Apakah tidak usah berwudhu lagi, Pak Kyai?” tanya Suryo.
“Bila masih suci dan belum batal wudhunya, tidak usah berwudhu lagi. Apakah Suryo batal? Maksudku, apakah Suryo baru saja kentut?”
Suryo mengangguk dengan menahan malu.
Raden Ahmad tertawa, “Kalau begitu berwudhulah, aku menunggu di sini.”
Selesai shalat Isya’, Suryo menyiapkan bediang atau api unggun dari daun-daun dan ranting kering dicampur rumput setengah basah, supaya asapnya tebal untuk mengusir nyamuk.
Kuda Raden Ahmad ditambatkan di sebelah kanan rumah, di batang pohon mangga dekat api unggun.
Raden Ahmad dan kedua tuan rumah duduk berbincang-bincang di tikar lebar yang dihamparkan di tanah ruang tengah, tempat mereka nanti tidur merebahkan diri.
Mereka berbincang-bincang mengenai masa kecil, masa remaja, masa petualangan dan berbagai hal mengenai agama. Suryo melongo terpesona manakala kedua pendekar itu saling berbagi cerita mengenai pengalaman bertempur dan berkelahi dengan musuh-musuh yang ganas dan sakti. Ia rasanya ingin segera menjadi pendekar seperti ayahnya, atau lebih dari itu, seperti Raden Ahmad yang lebih sakti dan lebih pandai dalam segala hal, agar ia bisa menghancurkan penjahat. Dan ia mendendam khusus dengan penjahat pembunuh ibunya yang mungkin juga membawa lari adiknya.
Terlebih ketika Raden Ahmad menceritakan kisah perjuangan para wali dalam menyebarkan agama Islam, betapa berat perjuangan mereka sebab yang dihadapi adalah jago-jago silat yang sakti berbekal senjata keris-keris sakti, namun semuanya itu dapat dikalahkan oleh para wali yang berbekal ilmu silat yang dilambari doa kepada Allah agar diberi mukjizat kesaktian.
Seperti juga kisa pengalaman Sunan Bonang di Tuban. Pada saat zaman kacau seperti itu, ada seorang benggol maling penjahat, pembunuh dan penjudi yang di samping berkemampuan ilmu silat tinggi juga mengandalkan kekuasaan ayahnya yang memang seorang penguasa atau adipati di Tuban. Cuma Raden Mas Said, nama benggol itu, juga memiliki sifat baik, sebagian hasil rampokannya biasanya diberikan kepada rakyat yang sangat miskin.
Suatu ketika Raden Mas Said menghadang Sunan Bonang.
“Apa yang kau harap dariku, Anak Muda?” tanya Sunan Bonang.
“Hartamu! Kalau tidak boleh, nyawamulah yang kuminta,” teriak Raden Mas Said.
“Aku tidak punya apa-apa,” sahut Sunan Bonang.
“Oh, kalau begitu tak ada pilihan lain, nyawamu yang kuminta.”
Sunan Bonang kemudian berdoa dan berdzikir kepada Allah, lalu berkata: “Jika yang kau minta emas, itu ada emas,” kata Sunan Bonang sembari menunjuk ke sebuah pohon kelapa.
Raden Mas Said mendongak ke atas, dan ia terkejut sebab dilihatnya buah-buah kelapa yang tadinya tidak terbuat dari emas, kini tampak bagai disepuh emas murni.
“Kau jangan menipu aku dengan ilmu sihir murahan!” bentak Raden Said.
“Masya Allah, alangkah dungunya anak ini!” geram Sunan Bonang sambil memukul pohon kelapa itu dengan tongkatnya, sehingga bergetar hebat dan berjatuhanlah semua buahnya, berupa butiran emas besar.
“Nah, ambillah itu,” kata Sunan Bonang seraya melenggang pergi.
Raden Said tersadar bahwa sesungguhnya yang dihadapinya kali ini bukanlah manusia kebanyakan, bahkan lebih dari itu, bukanlah pendekar biasa, namun seseorang yang memiliki kesaktian yang tidak dipunyai manusia biasa.
Ia yang selama ini menganggap dirinya seorang jagoan tak tertandingi merasa ringkih berhadapan dengan kesaktian Sunan Bonang yang tak perlu ditunjukkan lewat adu perkelahian yang mencelakakan, akan tetapi hanya lewat pameran kekuatan yang hebat sekali.
Raden Mas Said akhirnya menyembah
“Jangan menyembah kepadaku, aku manusia biasa, hanya Allah Swt yang patut disembah. Bertobatlah kamu kepada-Nya dan berhenti dari semua kejahatanmu! Kalau kamu ingin jadi muridku, aku bersedia saja asal kamu bersungguh-sungguh,” kata Sunan Bonang.
Raden Mas Said pun mengucapkan tobat kepada Allah, dan kepada Sunan Bonang ia bersumpah setia akan selalu mematuhi peraturan Sunan Bonang.
“Aku ingin menguji kesungguhanmu. Nah, tungguilah tongkatku ini, dan jangan tinggalkan sampai aku kembali lagi,” kata Sunan Bonang sembari menancapkan tongkatnya di tepi sungai di dekat situ.
Raden Mas Said menunjukkan kesungguhan hatinya dengan bersila menunggui tongkat tersebut, meski panas matahari memanggang, hujan mengguyur deras, bahkan pun tatkala air sungai meluap sampai ke lehernya, ia tetap tak bergeming menunggui tongkat yang ditinggalkan Sunan Bonang hingga berbulan-bulan.
Ketika Sunan Bonang merasa cukup menguji ketabahan Raden Mas Said, maka Raden Mas Said pun diterima menjadi muridnya. Diajarinya pelajaran agama Islam, di samping menyempurnakan kepandaian ilmu silatnya dengan lambaran agama Islam. Akhirnya Raden Mas Said diangkat sebagai sunan dengan gelar Sunan Kalijaga, yang di kemudian hari menjadi salah satu wali yang gigih dalam menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa Tengah.
Mendengar cerita itu, tak hanya Suryo yang melongo, tapi juga ayahnya, Ki Suryadi, terpesona akan kehebatan dan kesaktian para wali.
“Apakah kalian mau mendengar kisah mengenai Sunan Drajat dan Sunan Sendang Duwur?” tanya Raden Ahmad lagi, dan kedua ayah-beranak itu pun mengangguk dengan cepat.
Raden Ahmad tersenyum dan segera memulai ceritanya:
“Suatu ketika Raden Qosim Syarifuddin atau Sunan Drajat mendengar bahwa ada seorang ulama muda sakti, yang merupakan anak dari salah satu murid Sunan Drajat sendiri. Ulama muda itu bertempat tinggal di lereng dataran tinggi Bukit Patunon,Sendang Duwur. Sunan Drajat ingin menguji kesaktian ulama muda yang bernama Raden Nur Rahmat itu. Dikunjunginya Raden Nur Rahmat dengan alasan meminta minum air kelapa muda.
“Silakan, Kyai, di luar rumah itu ada pohon ental maupun pohon kelapa,” jawab Raden Nur Rahmat.
Maka Sunan Drajat memilih sebuah pohon kelapa dan dipukullah dengan tongkatnya, sehingga pohon itu bergetar hebat dan rontoklah semua buahnya.
“Jangan begitu, Kyai. Kalau dengan cara begitu semua , maka buah-buahnya, baik yang muda maupun yang tua akan rontok,” sergah Raden Nur Rahmat.
“Lalu dengan cara apa, Kisanak? Aku tidak bisa memanjat pohon kelapa, apakah Kisanak bisa?” jawab Sunan Drajat menguji.
“
Melihat kesaktian Raden Nur Rahmat, maka Sunan Drajat memberi wewenang kepadanya untuk menjadi sunan di daerah Sendang Duwur dan bergelar Sunan Sendang Duwur.”
Kian takjublah Suryo dan ayahnya mendengar kisah-kisah wali sakti, hampir di luar nalar manusia. Rasanya, Ki Suryadi,ayah Suryo, pendekar silat yang cukup tinggi ilmunya, merasa kecil dibanding kesaktian para wali itu.
“Nah, kini hari sudah malam, sebaiknya kita tidur, beristirahat, esok masih ada urusan-urusan yang harus kita selesaikan,” ujar Raden Ahmad.
Dengan perasaan puas dan terpesona, Suryo dan ayahnya merebahkan diri. Begitu pula dengan Raden Ahmad, setelah berdoa dan memasrahkan hidup dan matinya kepada Allah, beliau pun segera tidur lelap.
Keesokan harinya, Suryo dan ayahnya terbangun manakala mendengar suara Raden Ahmad mengumandangkan azan Subuh. Mata mereka masih mengantuk, tapi segan untuk tidur lagi, sebab mereka melihat Raden Ahmad yang sudah wudhu tanpa menghiraukan hawa dingin yang menggoda orang untuk lebih enak tidur mlungker. Mereka pun segera pergi wudhu dan shalat berjamaah.
“Islam itu mengajarkan kerajinan dan kedisiplinan yang ketat, agar manusia terbiasa bertanggung jawab. Tanpa tanggung jawab, maka lebih baik manusia itu berhenti jadi manusia. Orang yang tak bertanggung jawab hanya akan menyusahkan orang lain dan lingkungan saja, sebab ia cenderung hidup santai dan selalu menuruti hawa nafsunya. Sedang hawa nafsu itu adalah ajaran setan,” begitu petuah dan kuliah Subuh Raden Ahmad kepada ayah-anak itu seusai shalat Subuh.
Sejenak kemudian, Raden Ahmad langsung bersiap diri dan memasang pelana sekaligus kantong di punggung kudanya, “Mumpung hari masih segar, aku akan melanjutkan perjalanan, Ki Suryadi.”
“Kenapa tergesa-gesa, Raden?”
“Ya, aku ‘
“Wa’alaikum Salam, aku juga menghaturkan banyak terima kasih kepada Raden. Selamat jalan,” kata Ki Suryadi memandang Raden Ahmad yang segera menaiki kudanya, dan Kuda Persi yang gagah itu pun segera berderap menuruni jalan setapak menuju jalan berbatu di tengah hutan, yakni jalan raya warisan Majapahit yang terkenal dengan nama “dalan gung” namun lidah rakyat menyebutnya “delanggung”.
Kembali kuda gagah itu menapaki jalan berbatu yang mendaki ke Gunung Siman. Terus menuju ke selatan, dan jalanan semakin menurun, akan tetapi hutan semakin lebat, suara-suara binatang terdengar bagai nyanyian alam yang penuh pesona. Terdengar suara budeng berteriak-teriak sembari berloncatan di pepohonan menggoda ayam-ayam hutan, yang lantas terbang sambil meleter-leter.
Hutan jati lebat yang indah, anugerah Tuhan gratis untuk manusia. Sayangnya, banyak manusia yang tak pernah tahu cara bersyukur kepada Allah yang telah bermurah hati memberi nikmat dan karunia kepada manusia. Malahan, banyak manusia yang sombong, merasa dirinya besar, berkuasa, mengandalkan pangkatnya, jabatannya, senjatanya, kemampuan silatnya, dan dengan itu semua si manusia sombong lalu berbuat semena-mena berbuat angkara murka mengganggu keharmonisan kehidupan.
Tiba-tiba si Sembrani, Kuda Persi yang cekatan itu meringkik dan menghentikan langkahnya. Raden Ahmad pun terkesiap, ia segera waspada seraya menyebut asma Allah: “Subhanallah wa Bihamdihi….”
Apakah ada begal mengintai? Soal begal di Hutan Dadapan sini memang bukan hal aneh, apalagi di zaman kacau seperti ini, tatkala pemerintahan yang sah tidak sekuat zaman Majapahit dulu. Kesultanan Demak pasti hanya bisa mengayomi daerah sebelah barat, sedang daerah timur yang diserahkan kepada para sunan (wali) masih saja digoda oleh sisa-sisa perusuh yang menolak kehadiran agama Islam, mereka merampok sambil mencoba menghidupkan kembali Hinduisme.
Kuda Persi yang terlatih itu tanpa dikomando segera menepi di balik rimbun gerumbul, dan terlihatlah seekor harimau loreng Jawa yang besar sedang melenggang dan berdiri di tengah jalan, menengok-nengok ke kiri dan ke kanan dengan sombongnya laksana raja. Memang tepat sekali sebutan yang disematkan padanya: Raja Rimba.
Raden Ahmad berpikir keras, kalau harimau itu menyerang, ilmu apakah yang harus dikeluarkannya? Harimau adalah binatang, tentu saja jika menyerang memakai naluri, dan bukannya teknik. Karenanya, jurus-jurus silat tentu tak berguna. Apakah langsung diserang dengan senjata pamungkas “Ilmu Panglebur Nyowo”, biar si harimau hancur sak walang-walang?
Tapi ia juga berpikir, kalau saja ia bisa mengalahkan harimau itu tanpa melukai terlalu parah, ia bisa mendapatkan tubuh harimau itu secara utuh, dan dengan demikian pastilah bisa dimanfaatkan, misalnya dijual kepada para pedagang yang banyak berkumpul dan menambatkan perahu dagangnya di Pelabuhan Laren. Ia bisa menukarnya dengan kain pelekat atau sarung, untuk dipersembahkan kepada ayahandanya, atau dipersembahkan kepada eyang-paman, Raden Nur Rahmat atau Sunan Sendang Duwur yang telah mulai kelihatan sepuh, kendatipun masih terlihat gagah.
Atau bisa juga kalau mendapatkan kain batik parangakik, bisa ia persembahkan kepada ibundanya.
Apalagi kini ia tak membawa barang apa-apapun yang bisa dijual atau ditukarkan di Pasar Nggubeh Laren. Memang biasanya ia membekali diri dengan sekantung perhiasan emas yang dibelinya dengan murah di Sendang Duwur manakala ia pulang mengunjungi atau sowan ke eyang-paman Sunan Sendang Duwur.
Barang perhiasan dari Sendang Duwur disukai konsumen ataupun pedagang yang berkumpul di Pasar Nggubeh Laren. Pasar Nggubeh Laren ramai sekali terutama di hari Paingan, sebab pada saat itu berpuluh perahu dari Solo, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, bahkan dari luar pulau berkumpul menambatkan perahunya di Pelabuhan Laren, mereka berdagang dan saling tukar-menukar barang perdagangan dari berbagai jenis.
Perahu dari Solo memuat batik-batik buatan Solo dan Pekalongan. Perahu dari Bojonegoro membawa barang-barang kerajinan tanah liat seperti celengan, cerana, kendi, kemaron, cobek atau cowek dan sebagainya. Dari Gresik membawa sarung pelekat dan dari luar pulau membawa barang-barang yang langka seperti kayu cendana yang harum, cengkeh untuk pengharum rokok klobot, bahkan kadang ada perahu dari Gujarat yang sampai juga ke sana membawa kain sorban, jubah, dan tasbih serta sajadah.
Perahu-perahu itu jika kembali membawa hasil pertanian dari daerah Laren dan sekitarnya, atau juga membawa hasil pertukaran emas Sendang Duwur jika ada orang yang membawanya, seperti Raden Ahmad itu, atau juga membawa ikan laut segar yang dibawa para tengkulak dari Pantai Brondong dan Blimbing.
Pelabuhan Bengawan Laren memang pusat bertemunya para pedagang, dan dengan demikian Laren juga menjadi daerah paling ramai di pedalaman, dibanding daerah pedalaman lainnya.
“Gggrrrrrmmmm… Aaauuuummmm….” Tiba-tiba aum harimau loreng besar itu menyadarkan Raden Ahmad dari lamunannya, ia pun segera bersiap dan meloncat turun dari kudanya demi melihat harimau Jawa itu mengarahkan perhatian kepadanya.
Bagaimanapun, Raden Ahmad agak khawatir juga, sebab baru kali ini ia menghadapi binatang buas harimau. Kalau disuruh memilih, ia sebenarnya lebih suka disuruh berhadapan dengan para begal, lebih jelas jurus apa yang harus dikeluarkannya.
Raden Ahmad berusaha menarik perhatian harimau yang terlihat lapar itu, agar harimau itu tidak menyerang Kuda Persi-nya. Harimau ini jelas lapar, sebab biasanya harimau yang kenyang tidak berkeluyuran, akan tetapi lebih memilih tidur-tiduran. Atau kalaupun keluyuran, tidak tertarik untuk menyerang makhluk lain, kecuali kalau diganggu.
Itulah perbedaan binatang dengan manusia. Binatang sebuas harimau pun hanya mau makan kalau lapar, setelah kenyang, maka ia tidak lagi mencari mangsa. Sedangkan manusia, kapan kita bisa melihat kenyangnya? Manusia tak pernah mempunyai rasa kenyang. Selalu merasa lapar. Sudah kaya, ingin kaya lagi, ingin kaya lagi, ingin kaya lagi. Kecuali bagi orang-orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya.
“Gggrrrrrmmmm… Aaauuuummmm….” Harimau itu kembali mengaum seraya memancarkan sinar mata bengis langsung ke pusat mata Raden Ahmad.
“Ooh, kau ingin beradu mata denganku?” desis Raden Ahmad, maka dipusatkannya sinar matanya menembus kembali sinar mata harimau itu. Dua makhluk berbeda jenis tapi sama-sama bisa ganas itu beradu wibawa lewat adu sorot mata.
“Gggrrrrrmmmm… Aaauuuummmm….” Si harimau mencoba menambah wibawanya dengan geramannya yang diperkeras, akan tetapi Raden Ahmad yang telah mempersiapkan dirinya dengan totalitas yang betul-betul siap tetap memandang lurus ke arah sinar mata si harimau loreng itu. Bahkan, lewat sorot matanya, dikirimkanlah getar kegeraman sekaligus kemarahan ke arah sinar mata si harimau.
Tiba-tiba si harimau meredupkan sorot matanya, rupanya ia kalah wibawa. Harimau Jawa loreng itu kini mengalihkan perhatiannya ke arah Kuda Persi yang memandang cemas ke arah harimau kelaparan itu.
Dan tiba-tiba pula, harimau itu melonct ke arah Kuda Persi yang segera meringkik dan menaikkan kakinya lantas mendepak si harimau, sehingga binatang buas itu terlempar dan menggerung kesakitan. Kemarahan si harimau kian menjadi, dan kini ia rupanya nekad serta mempertaruhkan gelar kerajarimbaannya. Ia kembali menyerang Kuda Persi yang rupanya gagah berani itu.
Tapi Raden Ahmad tidak membiarkan si harimau mencederai kuda kesayangannya, ia segera meloncat dan menabok kepala si harimau sehingga kembali menggerung kesakitan dan marah luar biasa.
Raden Ahmad merasa kasihan pada penderitaan si harimau, maka sekali lagi dikirimkanlah satu pukulan “Gludug Sayuta” ke arah kepala si harimau yang masih terguling-guling di tanah. Dan dengan segera, si harimau terdiam kaku. Napasnya telah berpisah dari raganya.
“Alhamdulillah, segala puji syukur atas pertolongan Allah,” seru Raden Ahmad sambil mengatur napasnya yang masih memburu. “Kita diselamatkan oleh Allah, Sembrani, sekaligus diberi Allah sebuah benda yang berharga mahal, ya tubuh harimau ini.”
“Mudah-mudahan, sebelum matahari lingsir kita bisa tiba di Laren, sehingga mayat harimau ini belum keburu busuk. Nanti kita bisa jual kepada Kanjeng Kyai Mas Ali Amin, seorang kyai dan juga pedagang, atau bisa juga kita tawarkan kepada Bekel Jogosuro, petinggi dan penguasa daerah Laren,” kata Raden Ahmad seolah-olah kepada si Sembrani, kudanya.
“Kau harus membopong mayat harimau ini, Sembrani, biar aku mengalah berjalan di belakangmu,” kata Raden Ahmad lagi kepada kudanya sambil mencoba mengangkat tubuh harimau yang telah jadi bangkai itu. Ternyata berat sekali, hampir tiga kali berat badan manusia.
Dengan susah payah, Raden Ahmad bisa menaikkan mayat harimau loreng itu ke punggung Sembrani yang juga lantas meringkik karena agak keberatan. Raden Ahmad lalu menepuk-nepuk leher kuda kesayangannya itu agar tabah dan menunjukkan kesabarannya.
Perjalanan dilanjutkan tanpa bisa bersicepat, lantaran kini mereka terpaksa berjalan kaki, dan si Sembrani tak akan meninggalkan tuannya sendirian, lagi pula ia membawa beban berat di punggungnya.
Hari sudah sore, karena matahari mulai tergelincir di arah Barat, cahaya kekuningannya tersembunyi di balik rimbun Hutan Gampang yang lebat,laksana kata istilah “gung liwang liwung jalmo moro jalmo mati sato moro sato mati.”
“Astaghfirullah, aku belum shalat Dzuhur dan Ashar,” sebut Raden Ahmad menyadari kelupaannya, begitulah, betapapun saktinya ia, ternyata ia hanya manusia biasa yang tak luput juga dari lupa.
Tiba di kali kecil, Raden Ahmad menarik tali kekang si Sembrani. “Istirahat sejenak, Sembrani, aku mau shalat dulu.”
Sembrani duduk rebahan di tepi kali, dan Raden Ahmad menurunkan mayat harimau loreng itu dari punggung Sembrani.
“Merumputlah dulu sepuasnya,” ujar Raden Ahmad menepuk-nepuk punggung kudanya, lantas mengambil sajadah dari dalam kantong yang terikat di pelana. Digelarnya di rerumputan dekat tempat si Sembrani berbaring. Kemudian ia melepas sorban hitam serta jubah putihnya, dan ditaruhnya di atas sajadah. Lantas, dengan hanya berpakaian dalam, Raden Ahmad turun ke sungai.
Selesai shalat Dzuhur yang sekaligus dijama’ dengan Ashar, perjalanan kembali dilanjutkan ke arah selatan. “Jangan mengeluh, Sembrani. Pelabuhan Nggubeh Laren tinggal se-rokok-an saja jaraknya,” kata Raden Ahmad menghibur Kuda Persi-nya. Dan si Sembrani menyambut kata-kata tuannya dengan anggukan-anggukan keras seakan mengerti bahasa manusia.
Tapi alangkah terkejutnya Raden Ahmad, demi ketika dilihatnya dua orang muda berkelahi dengan serunya di tepi hutan menjelang sampai di bulak batas Desa Laren.
Dua orang itu mirip benar wajahnya, mereka berkelahi dengan seru dan penuh emosi, meskipun kelihatan benar bahwa masing-masing pihak tidak ingin mencelakakan pihak yang lain. Agak jauh dari kedua anak muda itu berkelahi, seekor kuda teji merumput seolah tidak peduli pada dua orang yang berkelahi tadi.
Perkelahian benar-benar seru, dan anak muda itu kelihatan benar masing-masing mempunyai kepandaian silat yang cukup, kendatipun belum sampai tingkat lanjutan (tinggi).
Saling pukul, saling tangkis, saling jegal, dan sesekali berbenturan, lalu sama-sama meloncat ke belakang untuk kemudian kembali memasang kuda-kuda guna mempersiapkan serangan berikutnya.
Ketika jarak antara Raden Ahmad dengan kedua pemuda yang berkelahi itu tinggal dua penggalah, tahulah Raden Ahmad bahwa kedua pemuda itu adalah kakak-beradik putra Kanjeng Kyai Mas Ali Amin.
“
Segera disuruhnya Sembrani berhenti, diturunkannya mayat harimau dari punggung kuda itu, diletakkan di rerumputan, lantas ia menuju ke arah perkelahian.
“Dimas, berhentilah berkelahi, Dimas!!!” serunya.
Perkelahian itu berhenti, kedua pemuda tersebut sama-sama termangu mendengar teriakan berwibawa itu, dan demi yang dilihatnya datang adalah Pendekar Sendang Drajat, mereka lalu berdiri berhadap-hadapan sembari menundukkan kepala.
“Aduhai Dimas Khavid dan Dimas Anas, kenapa bisa sampai berkelahi sedemikian rupa, bagaikan dua musuh saja, padahal kalian adalah satu saudara?” tanya Raden Ahmad penuh wibawa.
“Pulanglah kamu, bawa kuda itu pulang dan tambatkan di istal belakang rumah, suruhlah Basri memandikan kuda itu. Awas kalau kamu bawa minggat lagi kuda itu, akan kuhajar kau , juga Kangmas Sendang Drajat akan menghajarmu!” bentak Dimas Khavid kepada adiknya itu.
“Ah, kenapa Dimas begitu keras sikapnya terhadap adik sendiri?
“Biarlah, Kangmas. Ia memang sudah perlu dihajar. Aku sudah kehabisan kesabaran dirongrong terus-menerus oleh dia. Justru ketika Ayahanda pergi ke Pesantren Giri bersama para pengawal,” kata Dimas Khavid lagi. “Selama Ayahanda pergi, akulah yang ditunjuk untuk memimpin keluarga, akan tetapi Dimas Anas justru terlihat selalu menentang kepemimpinanku, ia selalu saja melakukan tindakan-tindakan yang membuat aku tersinggung. Dan kuda satu-satunya yang ditinggal, yang seharusnya hari ini kupakai untuk mengawal kiriman genteng-genteng ke Bulubrangsi, dibawanya pergi hanya untuk bersenang-senang berburu ayam alas dan burung merak.”
“Ooh begitu, pulanglah Dimas Anas, hormatilah saudara tertuamu, ia memang sudah mendapat wewenang dari ayahanda kalian untuk menjadi yang tertua, setidak-tidaknya selama ayah kalian sedang dalam bepergian,” ucap Raden Ahmad bijaksana.
Dengan wajah beku, Dimas Anas meloncat ke atas kuda teji yang sibuk merumput dan dicongklaknya hingga kemudian berlari cepat meninggalkan kepulan-kepulan debu.
“Begitulah adatnya, kalau naik kuda bagai dalam lomba balapan kuda saja,” seru Dimas Khavid.
Raden Ahmad tertawa. “Memang begitulah adat pemuda remaja, bersabarlah Dimas. Belajar jadi orangtua itu artinya belajar bersabar,” kata Raden Ahmad lagi.
“Hmm, bagaimana kabarnya Kangmas? Sudah dua tahun kita tidak berjumpa, ‘
“Ya, Dimas, sudah dua tahun, rasanya rindu sekali.”
Raden Khavid menyalami dan mencium tangan Raden Ahmad, bagaimanapun ia sebagai anak muda yang baru berusia dua puluhan tahun harus menghormat kepada Pendekar Sendang Drajat yang lebih tua, yang kini usianya sudah sekitar tiga puluh tahun.
“Apakah kini Kangmas sudah mendapatkan garwa lagi?” tanya Raden Khavid sambil tersenyum.
“Belum, Dimas, hehehe, yah semenjak wafatnya nimas
“Ah, ya jangan begitu, Kangmas, apalagi Kangmas belum memperoleh putra, kasihan Kanjeng Kyai Nur Iman, garis keturunannya bisa terputus.”
“Lho ‘
“Yaaa, akan tetapi kalau ada keturunan dari putra lelaki pasti lebih membanggakan.”
“Sama saja, Dimas. Lagi pula nanti aku hanya akan menyusahkan istriku saja, karena aku akan lebih banyak meninggalkannya sendirian, lantaran hidupku lebih banyak dalam pengembaraan.”
“Kesukaannya Kangmas sama dengan aku. Tapi kali ini untuk beberapa bulan aku tak akan bisa ke mana-mana, sebab diserahi tampuk pimpinan rumah tangga padhepokan.”
“Oh ya, ada keperluan apakah Kyai Mas Ali tindak ke Pesantren Giri Gresik?”
“Tidak langsung ke Giri Gresik memang, namun ke Badu Wanar dulu.Konon, Ayahanda hendak mencari bibit ikan bandeng. Namun juga ingin bertemu dengan seorang kyai muda bernama Kyai Hadi, murid kesayangan Sunan Giri. Kyai Hadi sekarang masih mondok di pesantren pamannya di Badu Wanar,Pucuk.Ayah hendak memberi dukungan kepadanya untuk mendirikan kadipaten baru— Lamongan—berdasar pada agama Islam, sebab kadipaten yang lama—belum bernama Lamongan—dipegang oleh penguasa yang masih beragama Hindu, dan masih mengagungkan Kerajaan Majapahit yang sebenarnya sudah tidak ada sisa-sisa kekuatannya. Ayah akan menyarankan padanya agar selalu rajin meminta dukungan ke Kasunanan Giri di Bukit Giri, Gresik, karena memang Kyai Hadi adalah murid dan keturunan dari Pesantren Giri.”
“Mudah-mudahan Allah memberi jalan yang lurus dan kemudahan,” seru Raden Ahmad.
Sejenak kemudian Raden Ahmad teringat pada harimau yang tergeletak di samping kudanya, si Sembrani.
“Dimas, aku membawa oleh-oleh yang sedianya akan kutawarkan kepada ayahandamu.”
“Apakah itu, Kangmas? Perhiasan-perhiasan dari Sendang Duwur? Barang-barang itu sangat disukai pedagang dari Solo dan Pekalongan lho, semua simpanan Ayah habis terjual, meski sebagian diambil oleh Dimas Anas untuk ditukarkannya sendiri dengan kain-kain dan pakaian yang disenanginya dari pedagang yang datang dari Gujarat dan Sinkiang, yakni kain sutra halus yang hiasannya sangat indah.”
“Apakah kain itu dipakainya sendiri?”
“Ya, tentu saja, terutama di hari pekan Paingan, untuk menjual tampang.”
“Astaghfirullah, bukankah agama Islam melarang laki-laki memakai kain sutra dan perhiasan emas?”
“Ah, bahkan jari-jari tangan Dimas Anas penuh dengan cincin Sendang Duwur yang terbaik.”
“Yah, ia masih sangat muda, mudah-mudahan nanti kalau sudah benar-benar dewasa ia bisa mengerti mana yang benar dan mana yang salah. Berapakah umurnya sekarang?”
“
“Mudah-mudahan hatinya segera dibukakan oleh Allah.”
“Nah, manakah oleh-oleh itu? Atau kita buka di rumah saja? Kalau begitu marilah segera singgah di rumah kami.”
“Oleh-oleh itu bisa dilihat sekarang, nah itu lihat apakah yang tergeletak di sisi Sembrani itu?”
“Masya Allah! Seekor harimau loreng besar? Apakah ini tadi Kangmas yang membunuhnya?”
“Ia menghadang jalanku, lalu kuanggap sebagai hadiah dari Allah untuk kutukarkan dengan barang ataupun makanan, karena kebetulan aku sedang tidak membawa bekal barang-barang.”
Dimas Khavid mengamati tubuh harimau yang telah menjadi bangkai itu, dielus-elusnya kulitnya yang tebal dan indah, sungutnya yang tajam, dan dibukanya mulutnya, diperiksanya gigi-gigi harimau yang menyeramkan itu.
“Sungguh hebat, akan kubeli harimau ini, Kangmas. Kulitnya akan kupakai jadi sabuk dan gelang, hmmm… betapa gagahnya.”
“Ah, Dimas, kalau sudah keliahatan gagah lantas mau apa?”
“Hehehehe… Iya, ya… begini kok mengolok-olok Dimas Anas.”
“Tapi itulah sifat manusia, Dimas. Manusiawi kok.”
“Ya, ya, ya… Ah, hari sudah hampir Maghrib, Kangmas, marilah segera pulang ke rumahku,” seru Dimas Khavid demi dilihatnya sinar matahari sudah sedemikian merah lembayung membayang di balik kelebatan hutan.
Mereka pun pulang ke arah Desa Laren, dengan membawa seekor harimau mati yang diangkut dengan Kuda Persi yang gagah.
Sampai di mulut desa, anak-anak kecil mulai ramai melihat pemandangan yang menakjubkan itu. Seekor harimau berhasil dibunuh oleh seorang pendekar yang sering bertandang ke Laren, sahabat Dimas Khavid, putra saudagar kaya yang juga kyai di daerah Laren.
Kemudian tidak hanya anak kecil yang merubung, tapi juga orang-orang dewasa ikut merubung dan mengomentari, juga bertanya ini-itu, hingga sekejap kemudian, kabar mengenai harimau yang dibunuh oleh Pendekar Sendang Drajat itu pun menyebar ke seluruh Laren dan sekitarnya. Semua penduduk tambah kagum dan hormat kepada Pendekar Sendang Drajat.
Tapi apakah semua orang mengagumi dan menghormati? Tidak, pasti ada saja pihak yang iri, dan itu sudah bias-ragam warna kehidupan.
Dan salah satu di antaranya adalah Ki Surowono, jogoboyo di Laren, yang menganggap kedatangan Pendekar Sendang Drajat selalu membuat kegiatan Bersih Desa dan Nyadran jadi tidak lancar karena Pendekar Sendang Drajat selalu memengaruhi Kyai Ali Amin untuk gencar berkhotbah di langgar, menentang dan mengkritik upacara slametan Nyadran dan Bersih Desa.
Tanpa membuang waktu, setelah selesai makan malam, Ki Surowono bergegas pergi ke pendopo kelurahan, tepat ketika Bekel Jogosuro, sang kepala kelurahan, sedang bercengkerama dengan kedua orang istrinya.
“Nyuwun Duko, Ki Bekel!” Ki Surowono menghatur sembah.
“
“Maafkan saya telah mengganggu istirahat Ki Bekel, namun kalau saja bukan karena ada masalah yang amat penting, tidak akan saya tergesa-gesa sowan ke sini saat-saat begini,” kata Jogoboyo sesopan mungkin.
“Baiklah, Nyai Ontoh dan Nyai Soroh, masuklah ke dalam dan suruhlah Taminah membuat wedang jahe untuk Ki Jogoboyo dan aku.”
“Tidak usah Ki Bekel, namun yang lebih penting adalah apa yang saya haturkan ini!”
“
“Pendekar Sendang Drajat itu datang lagi, dan kini ia mencoba memamerkan kesaktiannya dengan membunuh seekor macan loreng besar dan dibawanya ke sini,” kata Jogoboyo dengan penuh emosi.
“Kenyataannya ia memang sakti, beberapa pendekar kalangan hitam yang pernah kita sewa nyatanya tak pernah ada yang bisa mengalahkannya, beberapa malah pulang tinggal nama,” geram Ki Bekel setengah putus asa.
Jogoboyo itu semakin mendengus kesal karena merasa tidak dapat berbuat apa-apa. Suasana pun hening, keduanya terdiam, masing-masing mencoba menyelami kegundahan pikiran dan gejolak hatinya sendiri-sendiri.
“Tapi Kyai Amin sekarang ‘
“Pendekar itu tak akan berani mengacau langsung, sebab itu berarti ia menentang kekuasaan secara frontal. Dan kamu tahu, ia mempunyai hubungan yang cukup baik denganku, meskipun tidak terlalu baik, yah, hubungan perdagangan. Ia sering menjual barang-barang perhiasan Sendang Duwur kepadaku,” ujar Bekel lagi.
Jogoboyo Ki Surowono pun mengangguk-angguk agak lega hati.
“Nah, pulanglah, Ki Jogoboyo, dan tetap jalankan tugasmu mengamat-amati keamanan daerah Laren dan sekitarnya. Persiapan Bersih Desa sudah sejauh mana?”
“Semua persiapan dipimpin langsung oleh Ki Dukun Margokromo, dan saya selalu mendampinginya,” jawab Jogoboyo takzim.
“Yah, tiap hari aku selalu memerlukan laporan dari Dukun Margokromo maupun dari dirimu sendiri. Sekarang pulanglah, Ki Jogoboyo.”
Jogoboyo yang berkumis sangar dan berjenggot lebat itu pun minta diri dengan membungkuk di depan Bekel yang diseganinya. Dalam hatinya, ia mengharapkan kedatangan Kyai Ali Amin dari perjalanannya ke Giri lebih lama dari yang diperkirakan oleh Bekel Jogosuro, sehingga tidak mengganggu upacara Bersih Desa yang baginya adalah upacara adat ucapan syukur ke hadapan Sang Hyang Dewa, agar selalu melindungi daerah Laren dari setiap malapetaka, agar daerah Laren selalu diberi panen yang baik dan melimpah.Ia heran,upacara yang bertujuan baik dan mulia kok ada yang menentangnya.Begitulah pendapat dari versi Ki Jogoboyo.
“Apakah Kanjeng Kyai Ali Amin sampai memerlukan waktu selama itu pergi ke Giri?” sementara itu, pernyataan kekhawatiran justru dilontarkan oleh Pendekar Sendang Drajat kepada Dimas Khavid manakala mereka tengah duduk-duduk di serambi depan pendopo rumah Kyai Mas Ali Amin yang besar dan berhalaman sangat luas.
Halaman yang luas ke segala penjuru itu lebat oleh berbagai pohon buah-buahan, pohon kelapa, dan halaman belakang sebagiannya untuk istal (kandang) kuda.
Di samping rumah terdapat masjid kecil ( langgar ) yang dipakai oleh para tetangga dan para santri Kyai Ali Amin untuk shalat berjamaah, juga shalat Jumat di mana Kyai Mas Ali selalu berkhotbah mengajarkan ajaran-ajaran Islam yang benar. Kalau Pendekar Sendang Drajat datang berkunjung ke Laren, kira-kira tiga atau empat bulan sekali, dimanfaatkan untuk berdiskusi saling menimba ilmu dengan Kyai Ali Amin.
Setahun silam, atas desakan dan imbauan Pendekar Sendang Drajat, Kyai Amin berkhotbah ihwal hukum upacara Bersih Desa dan Nyadran yang syirik, tepat ketika Desa Laren mempersiapkan upacara itu sebulan lagi. Karena pengaruh khotbah itu, hampir separuh penduduk desa tidak mau mendukung bahkan memusuhi pelaksanaan upacara Bersih Desa, sehingga Jogoboyo, kaki tangannya, dan Ki Bekel marah luar biasa. Mereka mengupah beberapa pendekar kalangan hitam untuk meneror penduduknya sendiri yang membangkang sekaligus menentang upacara Bersih Desa, akan tetapi Pendekar Sendang Drajat dengan segera membersihkan Desa Laren dari gangguan para bromocorah sewaan itu, beberapa penjahat bahkan mayatnya terkapar di tlatah bengawan sehingga penduduk kian kagum dan takut pada kependekaran Pendekar Sendang Drajat, sedangkan para pamong desa tinggal geram tapi tak bisa berbuat apa-apa.
“Apakah ada perkembangan mengenai tradisi upacara Nyadran dan Bersih Desa itu, Dimas?” tanya Raden Ahmad alias Pendekar Sendang Drajat.
“Tahun lalu hampir ada pertumpahan darah, kalau saja Ayah dan Ki Bekel yang sesungguhnya masih ada hubungan keluarga, meskipun jauh, tidak berdamai,” cerita Dimas Khavid.
“Oh, apakah itu bersangkutan dengan pelaksanaan upacara Bersih Desa?”
“Ya, yakni pada suatu hari, beringin dandu tempat pusat upacara Bersih Desa terbakar akan tetapi tidak besar karena api keburu bisa dipadamkan. Nah, Jogoboyo menuduh para penduduk yang terkena hasutan Ayahlah yang melakukannya. Tetapi Ayah yakin, para makmumnya tidak sampai melakukan itu, sebab biasanya makmum yang hendak melakukan sesuatu pastilah meminta pertimbangan Ayah dulu.
Hampir saja terjadi perkelahian berdarah antara makmum Ayah dengan para penduduk yang masih percaya kepada kepercayaan Hindu dan animisme. Allah menolong Ayah, karena pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa beringin dandu itu terbakar di musim kemarau kering karena dupa yang senantiasa dipasang Dukun Margokromo dan Jogoboyo sendiri, membakar daun-daun kering di bawah dan akhirnya karena tiupan angin kering lalu membakar kayu akar-akar pohon beringin yang bergelantungan itu. Sejak itu, Jogoboyo lalu malu sekali pada Ayah, sehingga tidak pernah lagi menampakkan permusuhannya secara terbuka. Akan tetapi bisa dipastikan bahwa ia mendendam meskipun hanya dilakukannya secara kasak-kusuk.”
“Alhamdulillah. Nah, kini ia pasti tidak senang melihat aku hadir lagi di Laren.”
“Bersiap-siap saja Kangmas untuk menunggu intrik-intrik Jogoboyo yang selanjutnya,” Dimas Khavid memperingatkan Pendekar Sendang Drajat agar senantiasa waspada.
Tiba-tiba Basri datang mengucap salam ke serambi depan dan menyatakan bahwa harimau itu telah selesai dikuliti dan menanyakan daging-daging itu untuk diapakan, juga bagian-bagian tubuh lainnya.
“Ah, sayang ya Kangmas, daging harimau itu haram, karena binatang buas. Baiklah Basri, soal daging itu urusan belakangan, tapi kulitnya samaklah, lalu… kepalanya berikan obat balsam untuk hiasan dinding ruang depan. Dan tolong tanyakan kepada Simul di dapur, kalau makan malam sudah siap, suruh melapor ke sini.”
“Baiklah, Denmas. Wassalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum Salam,” jawab Raden Ahmad dan Dimas Khavid hampir bersamaan.
Angin malam bertiup dingin, tetapi di serambi depan hangat oleh wedang jahe gula kelapa yang menemani perbincangan Pendekar Sendang Drajat dan Dimas Khavid.
Setelah itu tibalah makan malam yang lumayan mewah, terutama bagi Pendekar Sendang Drajat yang lebih banyak merasakan makanan darurat dan sederhana bila dalam pengembaraan, meskipun di rumahnya sendiri, di pesantren ayahandanya, sebenarnya makanan selalu cukup baik.
“Kenapa sejak tadi aku tak melihat Dimas Anas? Mbok ya kita ajak makan bersama,” ucap Pendekar Sendang Drajat tiba-tiba.
“Ah ya, kalau Dimas Anas pasti sudah mendahului makan. Dan apa kudanya sudah diserahkan ke Basri? Baiklah, saya pamit ke belakang sebentar, biar kutanya Basri,” kata Dimas Khavid.
Beberapa saat kemudian, Dimas Khavid kembali dengan wajah yang agak cemas. “Kudanya sudah diserahkan kepada Basri, tetapi kata Basri, selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Dimas Anas pergi lagi, Kangmas. Kalaupun ia ngambek, lalu pergi ke mana ya?” ucap Dimas Khavid. Yah, kendati barusan menghajarnya, bagaimanapun Dimas Anas adalah adiknya, karenanya Dimas Khavid pun mencemaskannya.
“Apakah Dimas Anas tak terbiasa bepergian jauh?” tanya Raden Ahmad.
“Ia memang kerjaannya bermain dan keluyuran, tapi biasanya paling malam sesudah maghrib ia sudah pulang, sebab kalau tidak ia akan dimarahi Ayahanda.”
“Yah, persoalannya kini Kanjeng Kyai Ali Amin sedang tidak ada di ndalem.”
“Lagi pula, kali ini dia dalam keadaan ngambek, Kangmas.”
“Sudahlah, Dimas. Dimas Anas ‘
“Tapi kalau penjahat itu berilmu tinggi, bukan mustahil ia bisa celaka,” kecemasan kian membayang di wajah Dimas Khavid.
“Hmmm…,” Dimas Khavid berpikir. “Ah, mudah-mudahan ia pergi ke rumah Neneknda, sebab Kanjeng Ibu juga sedang di ndalem-nya Nenek.”
Mereka pun kembali melanjutkan makan malam yang tertunda.
“Kangmas, kuganti berapa harga macan itu?” tanya Dimas Khavid setelah makan malam selesai, akan tetapi belum beranjak dari meja makan lonjong (bujur sangkar) berkaki pendek yang terbuat dari kayu jati tebal berukir dari Jepara.
Raden Ahmad tertawa, “Seperti dengan siapa saja, Dimas. Panjenengan menggantinya dengan makan malam ini saja sudah cukup kok.”
“Ah, ya jangan toh, Kangmas.”
“Sudahlah, sesuka panjenengan saja, Dimas.”
“Kangmas, aku punya simpanan sorban
“Sorban
“Ya, kubeli dari pedagang
“Aku cukup dengan sorban hitam sederhana ini saja, Dimas. Ini berarti aku ingin sederhana saja seperti rakyat kebanyakan, buat apa sorban mewah semacam itu? Itu hanya akan menjadikan kita riya’ atau suka pamer.”
“Ah, aku hanya memakainya di hari-hari besar, misalnya Hari Raya Ngidul Fitri dan Ngidul Ngadha.”
“Bukan, bukannya aku melarang Dimas, tetapi sikap itu terutama kutujukan kepada diri sendiri.”
“Atau sorban putih sederhana seperti milik Ayahanda? Yang ini terbuat dari kain halus dari
“Sorban putih? Itu menunjukkan si pemakai adalah orang yang sudah tinggi ilmu agamanya, dan sudah sempurna menjalankan syariat Islam dalam setiap tindakannya. Aku merasa masih belum cukup sempurna, Dimas. Aku merasa belum berhak menggunakan sorban putih. Entah kalau nanti jika aku merasa diriku sudah benar-benar bersih. Kini biarkanlah dulu aku cukup memakai sorban hitam, pertanda masih merasa benar-benar belum putih jiwaku,” urai Raden Ahmad panjang-lebar, sehingga Dimas Khavid tertunduk.
“Kangmas sungguh sederhana dan rendah hati. Kalau aku masih saja bisa terpancing untuk memakai pakaian-pakaian mewah.”
“Itu wajar, Dimas. Dimas masih muda, berapa sih umur ‘njenengan?”
“Dua puluh tahun.”
“Ah, anak tertua usia dua puluh tahun biasanya sebentar lagi disuruh menikah ya Dimas?” goda Raden Ahmad sambil tertawa, untuk meredakan suasana.
“Ah, Kangmas ini ada-ada saja. Aku belum siap untuk itu, Kangmas. Dulu waktu aku tamat mengaji di Pesantren Pringgoboyo, di seberang bengawan setahun yang lalu, aku sudah ditanyai mengenai hal itu oleh Kanjeng Ibu, sebab putri Kyai Pringgoboyo yang kenal sangat baik dengan Ayah dianggap cocok oleh Kanjeng Ibu untuk jodohku. Tapi dengan permintaan maaf, aku merasa belum ingin berumah tangga, masih suka berkelana menambah pengalaman. Bahkan sebenarnya aku ingin mencari ilmu lagi di pesantren Kyai Agung Singodipuro di Badu Wanar,Pucuk, akan tetapi Kanjeng Ibu melarang, sebab beliau tidak mau berpisah terlalu lama dan terlalu jauh denganku. Kalau cuma di Pringgoboyo situ ‘
“Ah, mungkin menurut Dimas, putri itu kurang cantik barangkali ya,” ledek Raden Ahmad sambil tersenyum.
“Lho, putri itu cantik dan berkulit bersih, Kangmas. Bukahkah Kyai Pringgoboyo masih keturunan Raden Pringgoboyo? Raden Pringgoboyo adalah bekas pengawal Kerajaan Majapahit yang pergi menyepi ke daerah Pringgoboyo di wilayah Waringan Anom sambil membawa istrinya yang masih keturunan bangsawan Champa (
“Ya, ya, aku tahu. Kanjeng Ayah juga sangat mengenal dengan baik Kyai Pringgoboyo. Jadi, Dimas belum mau ya dengan putri itu? Nanti kalau kedahuluan keponakan-keponakanku, jika mereka dijodohkan, bagaimana? Tidak menyesal?” goda Raden Ahmad.
“Hahahaha… Kalau begitu, kita ‘
Tiba-tiba suasana dikejutkan dengan ramai-ramainya serombongan tetangga—ada sekitar dua puluh orang—yang rupanya adalah para makmum murid Kyai Ali Amin masuk pintu regol dan menuju halaman rumah dengan membawa obor, beberapa orang menggotong sosok tubuh yang luka bermandikan darah.
Dimas Khavid dan Raden Ahmad segera menyongsong ke muka, dan nyatalah bahwa tubuh berlumuran darah itu adalah Dimas Anas.
“Astaghfirullah… Bagaimana ceritanya ini semua?” tanya Dimas Khavid dengan kemarahan yang meledak.
“
“Ayo, tolong bawa ke dalam dan mintakan minum pada Simul. Basri… Basri…!” teriak Dimas Khavid sangat gugup. Dan ketika Basri muncul dan segera ikut gugup, dibentak oleh Dimas Khavid. “Jangan ikut gugup! Tolong kamu pergi ke rumah Nenek di Gendong, susullah Kanjeng Ibu, cepat. Tapi jangan bercerita dengan gugup di
Orang-orang segera membaringkan Dimas Anas di amben tengah, dan Simul yang datang dengan tergopoh-gopoh segera menangis meraung-raung.
“Kamu jangan menambah suasana gugup, Simul. Ayo diam!” bentak Dimas Khavid.
“Dimas sendiri juga harus tenang,” Raden Ahmad memperingatkan ulah Dimas Khavid yang lucu sekaligus mengharukan.
Setelah Dimas Anas diberi minum, Dimas Khavid memeluknya.
“
“Tenanglah dulu, Dimas. Sakitnya masih parah,” Raden Ahmad menenangkan, ia kemudian memeriksa luka-luka di sekujur tubuh Dimas Anas yang berupa bekas bacokan dan bilur-bilur bekas cemeti.
Ia pun membaui sekujur tubuh Dimas Anas dan bersyukur tidak ada bau racun, sehingga luka Dimas Anas hanyalah luka luar, bukan luka dalam. Ia lantas menyuruh mempersiapkan daun-daunan yang dianggapnya bisa mengeringkan luka.
Semua murid Kyai Ali segera bubaran mencari daun-daunan yang diperlukan Raden Ahmad. Beberapa dedaunan yang paling penting, untungnya tersedia di halaman rumah, sengaja ditanam oleh Kanjeng Kyai Ali Amin yang gemar berkebun dan menanam tumbuh-tumbuhan yang mempunyai khasiat obat.
Setengah jam kemudian, dedaunan itu sudah terkumpul dan segera ditumbuk sekaligus dipipis Simul, lalu oleh Raden Ahmad dibobokkan ( dibebatkan ) ke setiap luka Dimas Anas, luka itu lantas dibalut dengan kain selendang simpanan Ibunda Kanjeng Nyai.
Dimas Anas kemudian bisa bercerita, meski masih dengan suara tersendat dan terbaring lemah di amben:
“Tepat setelah matahari terbenam, aku pergi ke hutan. Memang aku sedang bingung, hatiku pepat, aku ingin minggat entah ke mana, aku memilih menenangkan hati ke hutan. Tiba-tiba di belokan Hutan Pantangan, aku melihat tiga ekor kuda dengan pengendaranya yang seram-seram datang dari arah utara, salah satu kuda yang di depan membawa seorang gadis cilik sekitar 8 tahunan, dengan tubuh diikat dan mulut disumbat. Aku langsung menyimpulkan itu hal yang tidak beres, mereka pasti penjahat yang menculik anak orang. Maka aku nekad berteriak. Tiba-tiba mereka berhenti dan berbicara satu sama lain. Segera aku mengambil batu dan kusambitkan kepada salah seorang yang langsung mengaduh dan jatuh dari punggung kudanya. Pimpinannya, yang membawa gadis cilik itu pun naik pitam. ‘Bunuh anak yang sombong itu!’ katanya sambil memburuku dengan cemetinya.
“Berulang-ulang aku mampu melompat menghindar dari cemeti yang bunyinya mirip geledek itu, tapi lantas aku dikeroyok oleh dua anak buahnya yang turun dari kudanya dan menyerangku dengan golok, sedang aku hanya bersenjatakan sabuk kulit yang kulepas dan kugunakan untuk menangkis serangan-serangan mereka.”
“Aku akhirnya tidak berdaya dikerubut oleh mereka, dan luka demi luka mulai tergores di kulitku, sementara cambuk yang dipecutkan si pimpinan dari atas kudanya membuat kulitku bagai disengat ribuan lebah. Aku akhirnya roboh dan darah mengalir dari setiap luka.”
“‘Kita bunuh saja, Ki?” tanya si penjahat yang tadi kusambit dengan batu.
“‘Biarkan anak sombong itu mati pelan-pelan. Kematian secara cepat terlalu enak baginya. Ayo kita tinggalkan dia, dengan luka arang kranjang seperti itu, ia akan segera sekarat. Dan esok pagi, pencari kayu akan menemukan mayatnya. Ayo berangkat!” ujar pimpinannya.
“Begitu kejamnya penjahat itu. Aku merasa sakit bukan buatan, tapi aku tidak pingsan. Aku bersyukur Allah belum memanggilku dengan cara seperti ini. Aku terus berdoa dan merintih, sampai beberapa lama ada seseorang yang berbaju hitam-hitam yang berlari secepat angin memburu ke arahku yang terus merintih-rintih.”
“Ia menanyakan sebab musababku, dan kuceritakan semuanya.”
“‘Hmmm… ini pasti ulah Suradadu!” geram orang itu, yang tiba-tiba saja langsung memondong tubuhku, dan menanyakan mana rumahku. Setelah kusebutkan, ia segera berlari sangat cepat ke ujung Desa Laren dan menyerahkan diriku kepada beberapa orang desa yang rumahnya di ujung desa. Ia segera berlari kembali ke arah hutan. Dan tak seberapa lama, tubuhku di-oyong-oyong orang-orang yang segera merubung. Lalu aku pun tak sadarkan diri.”
“Suradadu? Hmmm… yang menolongmu itu pastilah Ki Suryadi, yang anaknya diculik oleh Benggol Suradadu. Ia berlari ke arah hutan itu tentunya untuk mengejar jejak Suradadu,” simpul Raden Ahmad.
“Aku bangga kepadamu, Dimas, karena panjenengan ternyata berani berkorban hingga babak belur untuk menolong orang lain. Alhamdulillah, Allah masih menyelamatkanmu lewat Ki Suryadi yang anaknya kau bela itu. Jangan sedih oleh luka dan sakit ini, justru panjenengan harus bangga, luka yang kelak membekas di kulitmu adalah luka akibat perjuangan menegakkan kebenaran melawan kebatilan. Dimas Khavid, aku harus berangkat ikut memburu Suradadu, putri Ki Suryadi harus diselamatkan, sebab kalau Ki Suryadi tidak mampu melawan Suradadu, akan jelek nasib putrinya itu,” kata Raden Ahmad.
“Saya ikut, Kangmas,” tegas Dimas Khavid.
“Ah, jangan! panjenengan bertugas sebagai pimpinan padhepokan ini, jangan tinggalkan tugasmu selama masih memegang amanat Kanjeng Kyai. Biarlah aku sendiri saja yang berangkat, aku sudah terbiasa menghadapi beragam penjahat yang sakti-sakti. Baiklah, Assalamu’alaikum.”
“Kangmas belum cukup beristirahat.”
“Ah, sudah lebih dari cukup, bahkan aku sudah sempat makan enak,” kata Pendekar Sendang Drajat, lantas ia bangkit dan mengambil kudanya yang ditambatkan di halaman samping, segera ia men-congklak-nya dan segera ber-ketepak menuju ke utara, hampir berpapasan dengan Nyai Kyai Ali Amin yang datang sambil menangisi nasib putra keduanya.
Tapi Pendekar Sendang Drajat sudah jauh ke arah utara, sudah mulai memasuki hutan lebat Gampang Sejati, dan di Simpangan Pantangan kudanya dibelokkan ke arah timur menuju markas Suradadu di Simpang Prapatan Godog.
Dan benar kiranya, kira-kira satu rokokan kemudian, ia melihat dari kejauhan suatu perkelahian yang tidak imbang, lantaran satu orang dikeroyok tiga orang. Sementara itu, sekitar delapan orang lagi berjaga-jaga di pinggir arena pertempuran dengan tangan yang menggenggam bermacam senjata, baik pedang, keris, tombak, maupun cemeti.
Tapi satu orang yang dikeroyok tiga orang itu terlihat begitu tangguh, menangkis dan menyerang kembali serta berjumpalitan menghindar dari berbagai serangan yang bergantian mencecarnya.
Satu orang yang dikeroyok itu, yang dari jauh kelihatan benar sebagai sosok Ki Suryadi, menggunakan tombak pendek berujung trisula berkelahi dengan tangguhnya. Nyatalah, bahwa ia bukan pendekar sembarangan. Kalau tidak begitu, tak mungkin ia bisa mengalahkan Suradadu di masa yang lalu, sebab Suradadu sebagai benggol penjahat mestinya adalah pendekar silat kalangan hitam yang juga berilmu tinggi.
Pendekar Sendang Drajat tidak melihat di mana putri yang disekap itu, apakah sudah dibawa dan disembunyikan di dalam rumah?
Ia perlahan-lahan mendekat, akan tetapi berusaha tidak menimbulkan perhatian. Dengan mengambil jarak seratus langkah, ia menepikan kudanya dan mengintip perkelahian itu dari balik semak belukar.
Pertempuran berlangsung semakin seru, dan kelihatanlah kalau semakin lama tiga orang penjahat pimpinan Suradadu itu kian terdesak. Beberapa kali benturan pedang si penjahat dengan tombak pendek trisula mengakibatkan si penjahat terpental jatuh, dan dengan tertatih-tatih segera berdiri menjauh. Sementara kawannya, juga si Suradadu segera memburu Ki Suryadi, agar Ki Suryadi tidak sempat melukai kawannya yang terjatuh itu.
Suradadu berteriak-teriak dengan geram sembari tangan kanannya berkali-kali melecutkan cemetinya, dan tangan kirinya menyongsongkan pedang panjangnya. Tapi Ki Suryadi selalu bisa berkelit atau dengan tegar mengadu senjatanya, sehingga bunyi trang-trang-trang dan percik-percik bunga api lantaran gesekan dua senjata berkali-kali terlihat mewarnai keremangan malam.
Tiba-tiba Suradadu berteriak keras: “Kesabaranku habis!!! Aku sudah bosan bermain-main. Ayo serbu, kita bantai bedes ini!!”
Maka tiba-tiba serentak delapan orang yang tadi cuma bersiap siaga berdiri di pinggir arena langsung maju mengerubut Ki Suryadi yang sendirian. Ki Suryadi jelas jadi kerepotan dengan keroyokan ini, meskipun ia tetap mencoba melayani dengan gesit dan lihai.
Pendekar Sendang Drajat tak bisa membiarkan ulah pengecut itu. Satu orang dikeroyok tiga orang saja sudah terasa tidak adil, ini malah ditambah tenaga delapan orang lagi, justru manakala tenaga Ki Suryadi sudah terkuras habis oleh perkelahian yang cukup lama.
Maka ia segera turun dari kudanya, dan segera berlari menuju ke arah pertempuran.
“Sungguh pengecut kau, Suradadu. Pendekar macam apa kau kalau hanya berani berkelahi secara keroyokan?” teriaknya sehingga pertempuran sejenak berhenti.
Raden Ahmad kemudian menyiagakan pedang pusakanya, “Kyai Syaifullah”. Ia juga berharap berhentinya pertempuran yang pasti tak lebih dari beberapa jenak saja ini cukup membuat Ki Suryadi beristirahat untuk mengatur napas dan tenaga.
“Siapa kamu yang sombong, berani-berani ikut campur urusan orang?” teriak Suradadu semakin gusar.
“Penjahat memang harus diurus. Sebab kalau tidak begitu, ia akan seenaknya berbuat jahat,” seru Raden Ahmad melayani.
“Bangsat kapiran!!! Ayo ikut pertempuran ini, biar mulutmu yang lancang itu kubungkam dengan Pedang Singobarong ini!” teriak Suradadu bertambah geram.
“Pertimbangkanlah dulu ucapanmu, Suradadu. Apakah kau sudah bosan hidup atau masih ingin melihat indahnya dunia ini? Apa aku tidak tahu, kamu bertiga saja tidak sanggup melawan Ki Suryadi, kok sekarang menantang satu orang lagi,” jawab Raden Ahmad terus memancing kemarahan Suradadu dengan tujuan apabila seseorang berkelahi secara emosional, maka gerakannya tanpa kontrol yang cukup.
“Ayo Anak-anak, kita bungkam segera mulut yang pintar mengoceh ini! Ayo ke sini cepat, Bangsat. Apa aku yang harus memburumu?” teriak Suradadu dengan kemarahan yang sudah mendekat di ubun-ubun.
“Baiklah, Suradadu. Aku harus membunuhmu, sebab membiarkan penjahat lama-lama hidup di bumi hanya akan menjadikan dunia ini tak pernah tenteram,” ujar Raden Ahmad sambil mengucapkan “bismillah”, dan pedangnya pun mulai ditegakkan.
Suradadu langsung mengeluarkan kata-kata makian yang sangat kotor, lalu memutar-mutar dan melecutkan cemetinya sehingga menggelegar laksana petasan meledak di udara. Ia segera menyerang Raden Ahmad diikuti
Perkelahian terpecah ke dalam dua kelompok. Enam orang mengerubut Pendekar Sendang Drajat, dan
Lengking teriakan, beradunya senjata, dan teriakan umpatan dari penjahat yang merasa serangannya gagal memenuhi udara malam yang sepi. Debu mengepul karena kaki-kaki manusia-manusia yang memperjuangkan nilai-nilai hidup masing-masing. Nilai kejahatan dan nilai kebenaran.
Bagi Pendekar Sendang Drajat, berkelahi dengan orang yang salah paham dan berkelahi melawan penjahat yang sudah mempunyai reputasi kejahatan bertumpuk-tumpuk lain sikap dan hukumnya.
Menghadapi penjahat besar, tidak perlu lagi diberi hati. Karenanya, serangan-serangannya kali ini adalah serangan yang mematikan. Berulang-ulang ia menghantam lawan-lawannya, sehingga beberapa orang dari penjahat itu terjungkal dan roboh di tanah dengan darah yang membasahi tubuhnya. Tubuh itu berkelojotan dan lama-lama kemudian terdiam kaku.
Tiga orang telah menjadi mayat, tinggal tiga orang lagi, termasuk Benggol Suradadu. Perlawanan mereka sudah tidak seberapa berarti, bahkan Suradadu sendiri bahunya telah terluka oleh goresan Pedang Syaifullah, pedang Raden Ahmad pemberian ayahandanya, pedang yang konon didapat ayahandanya dari Sunan Sendang Duwur yang menemukannya dari reruntuhan candi saat beliau hendak membangun masjid di atas reruntuhan candi tersebut. Tentunya pedang tersebut kemudian telah “direnovasi”.
Di pihak lain, dengan tidak ikut sertanya Suradadu, maka lawan-lawan yang dihadapi Ki Suryadi adalah lawan-lawan yang ringan. Cuma karena jumlahnya
Namun demi diingatnya bahwa tenaganya sudah banyak terkuras, ia pun ingin segera mempersingkat pertarungan ini, daripada kedahuluan tenaganya yang habis, tentu akan mudah dilukai oleh lawan.
Sekilas Ki Suryadi melihat ke kelompok pertempuran Pendekar Sendang Drajat, dan demi dilihatnya telah ada tiga korban mati di tangan Pendekar Sendang Drajat, semangat Ki Suryadi bangkit lagi.
Ia pun segera mempergencar serangan dan mempertimbangkan dengan baik setiap pukulan, agar paling tidak bisa mencederai lawan. Pada suatu ketika, seorang penjahat menerjangkan kerisnya, maka disongsongnya dengan trisulanya, dibelitnya sehingga senjata itu tak bisa lagi ditarik oleh si empunya. Tatkala si empunya keris kerepotan menarik senjatanya, disentakkannya belitan senjata itu, sehingga si penjahat terdorong ke depan dan kesempatan itu dipergunakan Ki Suryadi untuk mengeplak kepala si penjahat hingga tersungkur jatuh dengan kepala serasa pecah. Penjahat itu menggeliat-geliat dan akhirnya pingsan.
Satu lagi penjahat yang penasaran, menyerangkan pedangnya menyilang ke arah lambung. Serangan yang agak berbahaya ini ditangkisnya dengan cepat menggunakan pedang trisulanya, “Trang!” bunyi senjata beradu keras, dan secepat kilat kakinya ditendangkan ke dada si penjahat sehingga terjungkal ke belakang dengan napas seakan berhenti. Orang itu jatuh terduduk seraya memegangi dadanya, senjatanya terlepas ke tanah.
Tiga penjahat yang tersisa saling berpandangan. Mereka kini sadar bahwa yang dihadapi bukanlah pendekar sembarangan. Maka, mereka kini berganti taktik, menyerang bersama dan mundur bersama. Dengan menyerang bersama, Ki Suryadi memang hanya bisa menangkis lalu meloncat mundur. Pertempuran berjalan dengan alot lagi. Sehingga tenaga pun terkuras sia-sia lagi.
Malam semakin larut, dan pertempuran bertambah lamban, sebab masing-masing pihak sudah mulai kehabisan tenaga. Beruntunglah, Pendekar Sendang Drajat telah merasa cukup beristirahat dan mendapatkan makanan yang bergizi waktu dijamu Dimas Khavid.
Pendekar Sendang Drajat alias Raden Ahmad baru saja berhasil merobohkan seorang penjahat, sehingga Suradadu semakin kecut hatinya demi melihat anak buahnya tinggal seorang, sedangkan sekilas dilihatnya bahwa anak buahnya yang mengeroyok Ki Suryadi pun tidak segera bisa memenangkan perkelahian, sehingga tak ada harapan untuk bisa membantunya. Bahkan hatinya kian mencelos manakala dilihatnya di pihak
Tiba-tiba tengah Suradadu melamun sejenak itu, ia harus membayar mahal manakala datang serangan dahsyat dari Pendekar Sendang Drajat yang sangat berbahaya, berupa tusukan Pedang Syaifullah ke arah dadanya. Ia tentu saja tidak bisa menghindar, satu-satunya jalan baginya adalah secara untung-untungan mengadu tenaganya lewat benturan dengan pedangnya. Tenaganya yang tidak tersalur melawan tenaga Raden Ahmad yang dahsyat mengakibatkan kondisi fatal. Pedangnya terpental melenting jauh, sedangkan sabetan pedang Raden Ahmad cuma melenceng sedikit tapi tetap dengan ganas menebas tangan kirinya hingga kutung, dan darah segera memuncrat dari sumur luka.
Suradadu menjerit memilukan dan meloncat menepi. Ia berteriak-teriak dengan umpatan-umpatan yang sangat kotor.
Perkelahian segera terhenti, meskipun semua pihak masih bersiaga dengan waspada.
“Rasakan Suradadu, sakit ‘
Suradadu terdiam menahan sakit, tapi hatinya malah sedemikian panasnya sehingga ia masih saja menantang: “Jangan sesumbar, Pendekar Sombong. Tangan kananku masih ada dan masih mampu melayanimu!.”
Pedangnya terlepas jatuh, cemetinya terlepas bersama dengan tangan kirinya, maka sisa tangan kanannya itu segera melepas sabuk besar yang melilit di perutnya, lalu diputar-putarnya sabuk itu di udara.
“Aku sebenarnya tidak pernah punya urusan persoalan denganmu, akan tetapi dengan kau putuskan tangan kiriku ini, maka kutancapkan dendamku padamu !” geram Suradadu.
“Kejahatanmulah yang mengundangku turut campur urusanmu,” desis Raden Ahmad.
“Kau tahu masalah apa antara aku dengan Suryadi?”
“Aku tahu sejelas-jelasnya, karena Ki Suryadi menceritakan permusuhannya denganmu.”
“Apakah kamu juga mendapat cerita darinya, bahwa istrinya itu dulu adalah gadis yang telah dilamar anakku? Anakku menjadi gila karena ulah Suryadi itu, hingga akhirnya mati dimakan macan di hutan saat ia pergi ke hutan sendirian dalam keadaan tidak waras. Ibunya menyusul mati karena ngenes memikirkan anaknya itu.”
“Itu adalah cerita masa lalu, Ki Suradadu,” tiba-tiba
“Biar ia merasakan kehilangan istri dan anak. Betapa kosongnya hidup, biar ia rasakan. Masih untung ia mempunyai seorang anak lagi, laki-laki lagi, untung ia tidak kutemukan, sebenarnya ia yang harus kuculik,”geram Suradadu dengan penuh dendam dan kepedihan.
“Kamu ternyata manusia juga ya Suradadu?” teriak Ki Suryadi tiba-tiba. “Kamu bisa merasakan arti kehilangan, tapi kamu tak pernah merasakan pedih dan hancurnya perasaan banyak orang yang istri maupun anaknya kau culik, kau perkosa, bahkan kau bunuh. Aku tahu dengan jelas kebiadabanmu di masa lalu. Dan itu tetap kau lakukan sampai sekarang.”
“Sebenarnya urusanku memang dengan kamu, Suryadi,” teriak Suradadu mendengan jawaban Ki Suryadi.
“Memang, ayo kita tuntaskan urusan utang-piutang kita,” tantang Ki Suryadi.
“Nah, baiklah kalau begitu. Aku tidak akan ikut campur urusan Ki Suryadi dan Ki Suradadu. Demikian juga, kuminta anak-anak buah Ki Suradadu tidak ikut campur urusan mereka. Biarlah dua orang laki-laki menyelesaikan urusannya secara laki-laki pula,” ujar Raden Ahmad sambil menepi, diikuti beberapa anak buah Ki Suradadu yang masih hidup, menepi di seberang. Arena pun terbentuk, di mana berhadapan Ki Suryadi dan Ki Suradadu.
Ketegangan mulai terasa kembali, tatkala dua pendekar yang punya urusan utang-piutang dendam di masa lalu itu saling maju dan mulai berputar menjajaki kesempatan saling menyerang.
“Biar adil, pakailah pedangmu, Suradadu. Jangan hanya memakai sabuk. Hei tolong ambilkan pedang Suradadu,” seru Ki Suryadi kepada anak buah Suradadu.
“Hemmmm, jangan sombong kau, Suryadi. Tapi kalau memang kau ingin agar utang-piutang ini cepat lunas, baiklah, Rusmadi, ambilkan pedangku,” sembur Suradadu.
Dan Rusmadi yang ditunjuk itu pun segera mengambil Pedang Singobarong yang terjatuh di tanah, dan dilemparkannya kepada Suradadu yang kemudian ditangkapnya dengan tangan kananya yang masih utuh itu.
Bagaimanapun, dengan kenyataan bahwa tangan Suradadu tinggal satu itu membuat Raden Ahmad berharap agar perkelahian ini segera bisa diakhiri dengan kemenangan di pihak Ki Suryadi, sebab kehadiran Ki Suryadi masih dibutuhkan kedua putra-putrinya. Sedangkan baginya, Suradadu tak lagi punya tanggungan. Lagi pula, Suradadu jika masih hidup lama, hanya akan menimbulkan kerusuhan di dunia. Maka, ia lebih berpihak pada Ki Suryadi, terlepas dari mana yang benar dan mana yang salah pada awalnya. Raden Ahmad pun berdoa kepada Allah, mudah-mudahan kemenangan dikaruniakan di pihak Ki Suryadi.
Kembali dua pendekar yang sedang berhadapan itu mulai lagi berputar-putar, dengan senjata yang tergenggam erat di tangan masing-masing.
Di wajah Suradadu membayang kemarahan dan kebencian, dendam masa lalu ditambah nasib malang kehilangan tangan kirinya, semua disalurkan kepada niat untuk mencincang Ki Suryadi, sebab dalam hati kecilnya ia memang merasa tak akan menang melawan pendekar bersorban hitam yang tiba-tiba ikut campur urusan itu.
Kini mumpung pendekar itu menyatakan tidak akan turut campur, maka ia akan mempergunakan kesempatan ini sebaik-baiknya, ia ingin menumpahkan dendam sekaligus kemarahan kepada musuh bebuyutannya itu.
Terlihat matanya menciring ganas, pelan-pelan kakinya melangkah mengatur serangan dengan baik, sembari tetap waspada terhadap setiap kemungkinan serangan balik.
Ia merasa tak perlu menunggu, lebih baik menyerang dulu dengan cepat dan tepat, dan langsung berjumpalitan jika serangan itu ditangkis atau justru datang serangan balasan yang di luar perhitungan.
“Heeeaaaatttt…!!!” begitu kesempatan terbuka, Suradadu meloncat dengan teriakan ganas dan kecepatan gerak yang sangat sukar diikuti mata. Akan tetapi ternyata hanya suara “trang!” yang berbunyi nyaring, dan selanjutnya dua pendekar itu saling berjumpalitan ke udara, mencoba mencari jarak yang cukup.
Begitu kakinya menjejakkan tanah, Suradadu yang sudah kesurupan itu langsung memburu Ki Suryadi yang belum tegak benar di tanah. Ki Suryadi melihat ia diserang dengan sedemikian tiba-tiba, sementara dirinya belum siap betul, maka ia menjatuhkan tubuhnya sambil dengan hebatnya memutar dan menyepakkan kakinya bagaikan sambaran ekor buaya menampar mangsa. “Whheeezzz…,” terdengar suara angin yang keras, tapi hanya menerpa angin kosong sebab Suradadu begitu melihat serangannya akan gagal langsung melenting tinggi melemparkan dirinya dengan jarak yang agak jauh hingga nyaris di luar arena.
Kedua pendekar kembali berhadapan dengan napas yang memburu, masing-masing sudah menimbang untuk lebih waspada, karena lawan yang dihadapi ternyata begitu tangguh, tak seperti yang diperkirakan mereka masing-masing.
Suradadu bergerak memutar, sambil maju setapak demi setapak untuk memperpendek jarak, agar kalau ia menyerang tidak lagi memberi kesempatan Ki Suryadi memilih gerak.
“Hiiyaaa…,” kembali Suradadu menyerang ke arah leher Ki Suryadi, tapi Ki Suryadi sudah siap menangkis serangan itu. Kembali terdengan “trang” dan titik bunga api bepercikan menghias malam yang semakin pekat. Suradadu langsung menyarangkan tendangan kaki dengan gerakan “menjejak dinding bata” ke arah lambung Ki Suryadi yang terbuka, namun Ki Suryadi adalah pendekar yang berpengalaman sekalipun sudah lebih dari sepuluh tahun mengundurkan diri dari dunia persilatan. Ia toh masih melatih diri, agar tidak lupa pada gerakan-gerakan silat, terutama jika melatih anaknya.
Ia memang sudah lama tidak mengalami perkelahian-perkelahian langsung, akan tetapi tetap cukup cekatan. Sehingga ketika ia merasa ada hawa berkesiur di sekitar lambungnya, ia berkelit manis sehingga tendangan itu lolos hanya berjarak satu inci dari kulit lambungnya.
Begitu lolos, dan Suradadu kehilangan kontrol, kesempatan itu langsung digunakannya untuk membalas dengan tendangan menyilang; gerakan “menebas alang-alang”. Maka terjerambablah Suradadu ke tanah dengan umpatan-umpatan kasar semakin banyak keluar dari mulutnya. “Aku tidak akan berhenti berkelahi sebelum aku atau kau mati, Suryadi,” sumbarnya setelah bisa kembali berdiri dari jatuh dan bergulungan di tanah berbatu.
Sebenarnya, Ki Suryadi merasa sedikit kasihan kepada Suradadu, sebab keadaannya yang tinggal memiliki satu tangan jelas merepotkannya, apalagi luka itu baru dan belum mengering. Dan luka itu kembali meneteskan darah karena tergesek tanah bebatuan.
Namun, apa boleh buat, jika memang Suradadu menghendaki permainan utang-piutang ini diselesaikan sampai salah satu mati, maka ia akan mencoba sedapat mungkin secepatnya membunuh Suradadu, agar tidak lama-lama tersiksa oleh keadaannya yang babak belur.
Entah putus asa entah mata gelap, karena marah dan malu, Suradadu kembali langsung menyerang membabi buta, dengan menghantam-hantamkan pedangnya disertai gerakan silang-menyilang. Ia terus memburu lawannya. Ki Suryadi pun terus mengelak dengan cara meloncat-loncat terus berputar, hingga pada akhirnya, kesempatan itu tiba, saat ia berada di belakang Suradadu, Ki Suryadi segera menusukkan trisulanya tepat menembus punggung Suradadu sampai ke dada muka. Akan tetapi ia dengan demikian tidak bisa menghindar dari sisa-sisa sabetan terakhir Suradadu yang secara membabi buta ditebaskan ke belakang.
Meskipun tidak dengan kekuatan penuh, pedang tajam Singobarong itu menggores dada Ki Suryadi melintang sampai bahu, dengan luka yang cukup dalam.
Dua pendekar itu sama-sama roboh dengan darah masing-masing mengalir deras bagai disemburkan dari sumbernya.
Suradadu mengaduh keras, menyebut nama istri dan anaknya, lalu terjungkal diam untuk selamanya. Trisula Ki Suryadi masih menancap lekat membocorkan jantung sekaligus paru-parunya.
Sementara itu, Ki Suryadi jatuh terlentang, tangannya mendekap luka melintang yang mengalirkan darah segar, matanya dipejamkan dan mulutnya menyeringai menahan sakit yang pedih dan perih.
Segera Raden Ahmad memburu Ki Suryadi dan melepas salah satu selendangnya, dibebatkan ke luka Ki Suryadi.
“Tolong… Raden… uruskan putriku… Adduuhh…,” rintih Ki Suryadi menahan rasa sakit.
“Sabar, Ki, anakmu akan kuurus. Tenanglah, lukamu agak dalam, jangan banyak bergerak, biar tidak banyak darah yang keluar. Tenanglah, mudah-mudahan lukamu cepat mengering dengan kutahan pakai selendang ini,” kata Raden Ahmad sambil matanya mengawasi para penjahat anak buah Suradadu yang beramai-ramai menggotong mayat pimpinannya ke arah sebuah rumah di antara empat rumah di Simpang Prapatan Godog, tanpa tetangga atau rumah lain. Rupanya ini memang cuma markas benggol-benggol.
Kemudian mereka mengangkuti lagi mayat-mayat yang lain, juga memapah dua rekannya yang tadi pingsan dihajar Ki Suryadi, dan kini mulai siuman dengan tenaga yang payah.
Raden Ahmad membopong tubuh Ki Suryadi ke sebuah rumah, diletakkannya di amben yang terdapat di muka rumah.
“Biarlah aku di sini, Raden. Lebih penting mencari di mana putriku disembunyikan. Tolong… Raden…, “ desis Ki Suryadi pelan. Darah mulai berhenti mengalir dari lukanya.
“Baiklah, Ki. Tenanglah, Alhamdulillah, darah telah mulai berhenti mengalir dari lukamu. Nah, sebaiknya, jangan banyak bergerak. Aku akan mencari putrimu.” Lalu Raden Ahmad bangkit dan menuju rumah besar yang dijadikan markas utama komplotan benggol itu.
“Kembalikan putri Ki Suryadi, dan urusan di antara kita selesai sampai di sini,” kata Raden Ahmad kepada segenap benggol yang tengah sibuk mencabut trisula yang menancap di tubuh Suradadu.
Seorang benggol, yang rupanya dianggap tertua di antara enam orang sisa-sisa benggol yang masih hidup itu, bangkit dan keluar rumah, menuju rumah paling ujung. Raden Ahmad mengikuti.
Benggol itu mengetuk pintu rumah tersebut, dan dibukalah oleh seorang wanita setengah baya, yang dari mata dan dandanannya terlihat sebagai wanita penghibur.
“
“Kemarikan anak itu,” jawab Benggol Darmo.
“Bukankah yang akan mengurus pendewasaan anak itu adalah aku? Dia masih terlalu kecil untuk kalian buat pesta, Darmo. Tunggulah ia dua tiga tahun lagi. Kalian memang keterlaluan,” kata wanita itu dengan cerewet dan bernada tinggi.
“Diam kau! Perempuan ceriwis! Kemarikan anak itu, atau kubakar rumah ini nanti,” geram Darmo dengan nada gemetar seakan segala rahasia kebejatannya yang kini menjadi terbuka,membuat dirinya gerah di hadapan Pendekar Sendang Drajat.
Sebaliknya, Raden Ahmad segera mengerti bahwa rumah besar itu adalah penampungan wanita penghibur yang didapat dari penculikan-penculikan dan kemudian dipaksa untuk jadi wanita rusak di tempat ini.
“Rupanya kau adalah manusia yang sangat berbahaya jika dibiarkan hidup, Darmo!” seru Raden Ahmad gusar mendengar ulah bejat para benggol jahanam itu, maka dicabutnya pedangnya dan ditebaskannya ke leher manusia jahanam itu sehingga putus tanpa sempat berteriak.
“Aaaaauuuwww…!!!” Justru wanita penjaga rumah mesum itulah yang berteriak melihat kepala Darmo menggelinding tepat di dadanya.
Keributan segera terjadi, para benggol yang tersisa segera berloncatan dari dalam rumah sembari menghunus senjatanya masing-masing. Kembali mereka mengepung Raden Ahmad.
“Aku ingin membersihkan masalah ini sampai bersih. Ayo siapa yang menyerah dan bertobat di jalan Allah, lemparkan senjata dan berdirilah di belakangku, dan siapa yang masih mencoba membela jalan hidupnya, akan kubersihkan dari muka bumi, agar tidak mengotori kedamaian umat manusia.”
Tapi tiba-tiba salah satu di antara mereka berteriak lantang: “Teman-teman, roh Suradadu akan menjadi hantu jika kita mengkhianatinya. Ayo kita bersatu menghancurkan pendekar sombong ini!”
Segera kelima benggol itu mengepung rapat, tapi justru Raden Ahmad yang sudah digerayangi perasaan muak atas ketengikan para benggol yang bandel itu langsung meloncat memecah kepungan, dan Pedang Syaifullah-nya menyambar satu korban yang langsung menjerit sambil roboh ke belakang dengan luka membelah dadanya. Raden Ahmad langsung meloncat keluar kepungan, dan kembali menyongsong serangan para benggol.
Begitu para benggol itu secara serentak menyerangnya, disabetkannya Pedang Syaifullah dengan isian ajian “baja candradimuka” yang membuat pedang besi baja yang juga berisi logam tiban (jatuhan dari langit atau meteor) itu keras dan tajamnya bak sembilu.
“Prak-prak-prak-prak…,” tebasan Pedang Syaifullah yang telah “diisi” itu sanggup memutuskan semua pedang para benggol yang secara serentak meluruk ke arahnya.
Keempat sisa benggol itu terkejut bukan buatan melihat kesaktian pendekar yang dikeroyoknya itu. Seumur hidup mereka tidak pernah menemukan musuh yang tidak hanya tangguh, tapi juga sakti dan mengagumkan seperti pendekar bersorban itu.
Dengan takjub dan ketakutan, mereka memandangi pedang masing-masing yang kini buntung. Salah satu di antara mereka tiba-tiba meloncat dan melarikan diri. Tapi Pendekar Sendang Drajat dengan cepat mengambil sebongkah batu dan melemparkannya sekuat tenaga, dan “Prak!” batu itu tepat menghantam kepala penjahat yang melarikan diri itu, sehingga terjungkal dengan kepala bocor.
Kini ketiga orang yang tersisa dengan gemetar membuang pedang-pedang buntungnya dan berlutut menyembah Raden Ahmad. “Ampun Pendekar, jangan bunuh kami, kami akan bertobat dan akan menjadi pengikut Anda, kami akan menjadi abdi panjenengan dan akan taat kepada semua perintah Pendekar.”
“Kalian harus bertobat kepada Allah dan hijrah di jalan Allah. Berhentilah berbuat kejahatan dan jadilah hamba Allah yang selalu membela kebenaran dan memusuhi kejahatan,” jawab Raden Ahmad.
“Terlalu banyak dosa kami. Mungkin hanya neraka yang pantas untuk menerima tubuh kami,” ujar salah seorang, disusul permintaan ampun yang ditirukan oleh dua temannya.
“Percayalah, bila kalian bertobat benar-benar dan tidak lagi mengulangi kejahatan kalian seperti saat-saat yang lalu, Allah akan mengampuni kalian, seperti Allah mengampuni Sayidina Umar bin Khattab, Sayidina Abu Sofyan, Kanjeng Sunan Kalijaga, dan beberapa kyai yang dulunya juga bekas penjahat yang bertobat,” ujar Raden Ahmad membesarkan hati mereka.
Tiba-tiba terdengar suara jerit beberapa wanita dan terlihatlah api membubung membakar rumah yang dihuni wanita-wanita, juga tempat menyekap putri Ki Suryadi.
“Masya Allah, ayo cepat kalian ikut menyelamatkan para wanita itu,” seru Raden Ahmad yang langsung meloncat ke dalam rumah dan melihat wanita yang tadi menjerit-jerit di ruang depan memandangi api menjalari dinding kayu jati itu dan mulai menjalar ke atap rumah. Rupanya, wanita yang tadi terkejut karena tertimpa kepala Benggol Darmo menjadi panik sehingga menabrak meja dan pingsan. Padahal, di atas meja yang terguling itu terdapat lampu minyak kelapa yang lantas membakar meja kayu serta menjilat dinding rumah. Panasnya api membuat wanita itu siuman dari pingsannya dan kemudian menjerit-jerit lantaran api sudah merambat sampai ke atap.
“Di mana kau sekap putri Ki Suryadi?” teriak Raden Ahmad kepada wanita itu.
“Huuuu… di dalam… di dalam… di dalam… huuuuu,” wanita itu menunjuk-nunjuk sambil terus menjerit dan menangis histeris.
Raden Ahmad meloncat masuk ke ruang tengah, tapi telinganya menangkap banyak jeritan wanita di ruang belakang. Ia segera berlari ke sebuah kamar yang terkunci. Dengan mengucap “bismillah”, ditendangnya pintu yang terkunci itu hingga rusak dan bisa dibuka. Dari dalam menghambur sekitar sepuluh wanita muda.
“Cepat keluar, rumah ini terbakar!” teriak Raden Ahmad, dan ia masih juga bingung mencemaskan Nini, putri Ki Suryadi yang belum ketemu tempat penyekapannya.
Perasaannya menyuruhnya kembali ke ruang tengah, di mana ia melihat ada dua kamar tertutup sebelah-menyebelah saling berhadapan. Kembali didobraknya salah satu kamar, dan ia menemukan Nini kecil itu menangis ketakutan di sudut ranjang.
Segera disambarnya gadis kecil itu dan dibawanya lari keluar, tepat ketika kayu-kayu atap yang terbakar mulai berjatuhan.
Di luar, ia menemukan para wanita itu berkumpul di bawah lindungan tiga benggol yang mengaku telah bertobat itu, mereka berkumpul di bawah pohon beringin di seberang jalan, mengawasi rumah yang terbakar itu sambil masih ada yang menangis ketakutan.
Tiba-tiba si wanita yang tadi, yang agaknya ditunjuk sebagai germo atau mucikari oleh para benggol, memisahkan diri dari kerumunan dan berlari mendekati rumah yang sudah ditelan api bulat-bulat. Ia menjerit-jerit dan meloncat-loncat seperti kesurupan.
“Perhiasan-perhiasanku, emas-emasku, rojobronoku, huuuuu… di situ… huuuu… ambilkan, ayo ambilkan… huuuu… ayo… di situ… di dalam peti ukir… di dalam kamar… ayo… di mana kamu Supo, Karmo, Rusmadi, Kaspo… bangsat tengik kalian tidak mau menolongku… huuu… awas kalian nanti kulaporkan pada Suradadu, akan dibunuh kalian nanti… bongko kamu nanti ya… huuuu… huuuu,” wanita itu terus menjerit histeris seperti orang gila.
Sementara api terus membubung membakar rumah yang lumayan besar itu, cahayanya bagai api unggun menerangi kegelapan malam, menerangi hutan yang memagari permukiman benggol-benggol itu.
Semua orang terpana melihat semua pemandangan yang dahsyat itu, semua melongo tanpa bisa berbuat apa pun, mereka hanya bisa memandang api menelan rumah itu laksana Batara Kala memakan matahari. Mereka hanya bisa memandangi kelakuan perempuan yang menjerit-jerit gila itu dengan kamitenggengen (diam terpana) tanpa bisa berbuat apa-apa. Dalam hati mereka hanya ada ketakutan, kengerian dan keharubiruan.
Dan begitulah, tatkala api mulai mengecil, mengubah rumah kayu itu menjadi puing-puing bara dan abu. Mereka melihat si wanita itu duduk lemas bersimpuh dengan mata yang telah sembab oleh air mata yang terkuras habis, bibirnya bergerak-gerak tak mampu lagi bersuara karena suaranya telah habis. Matanya kosong seperti jiwanya yang telah berubah, kosong karena merasa ditinggalkan miliknya yang paling dianggapnya berharga.
Beberapa wanita mendekatinya. “Nyi, Nyi Lasih….”
Tapi dengan beringas ditepisnya semua uluran tangan para wanita muda yang selama ini jadi gula-gula perasannya itu. Ia kembali merenungi puing-puing rumahnya yang tinggal merupakan tumpukan kayu yang masih membara, dan jilam-jilam kecil api masih menyisakan penerangan, memberi sedikit cahaya pada malam yang gulita.
Tiba-tiba Raden Ahmad menyadari kekhilafannya.
“Astaghfirullah…, kenapa aku lupa sama sekali?” Ya, bagaimanapun perkasanya ia, ia hanya manusia biasa. Hanya Allah, Dzat Yang Mahaingat, tak pernah sekalipun berbuat salah.
Raden Ahmad segera menyambar Nini dan berlari ke arah tubuh Ki Suryadi yang terbaring di salah satu dipan di rumah yang terletak dekat sekali dengan rumah yang kebakaran.
“Masya Allah, Ki. Kenapa aku lupa mengurus dirimu? Ini putrimu, Ki. Apakah engkau tidak terkena apa-apa? Maksudku, misalnya terkena serpihan kayu terbakar yang terlempar kemari misalnya?” tanya Raden Ahmad dengan penuh kekhawatiran.
“Alhamdulillah, Raden. Aku tidak terkena sesuatu pun. Hanya sedikit terasa hangat, tidak ada yang terlontar dari rumah itu sampai kemari.”
“Alhamdulillah, rumah itu terbakar tanpa merembet kemari. Mungkin ini sudah dikehendaki Allah, karena ada Ki Suryadi di sini, maka api itu tidak ditiup Allah sampai kemari. Ki, ini putrimu.”
“Nini, engkau tidak cedera apa-apa, Nak? Berterima kasihlah kepada Raden Ahmad, seorang kyai sekaligus pendekar yang telah banyak menolong kita,” ucap Ki Suryadi sambil dengan lemah tangannya mencoba meraih rambut putrinya, dan mengusap-usapnya.
Sedang Nini, putrinya, kemudian mulai terisak, lalu menangis, “Bapaak… apakah… emak… masih hidup???… huuuhuuuuu….”
Ki Suryadi hanya bisa diam memandang putrinya yang terguncang-guncang melampiaskan banjir air matanya.
Untuk beberapa saat, Raden Ahmad hanya bisa diam membiarkan kedua ayah dan anak itu menghirup kedukaannya, tapi ia kemudian mencoba menghibur dan memberi nasihat: “Nini, Ki Suryadi, kehilangan orang yang dicintai memang menyedihkan. Tapi, tidak ada di dunia ini satu pun makhluk hidup yang akan bisa hidup terus. Semuanya, pada akhirnya, akan mati juga, nyawanya akan pergi kembali menghadap Allah, Tuhan yang menciptakan makhluk-makhluk hidup ini. Maka itu, kita harus tabah, karena barangkali menurut Tuhan, sudah saatnya Nyai Suryadi dipanggil oleh-Nya. Kita tidak bisa nggandoli, tidak akan bisa menahannya kalau Tuhan sudah menitahkan. Kita semua ini juga akan mati, tapi kita belum tahu, kapan giliran kita. Oleh sebab itu, yang penting adalah, sambil menunggu saat kita dipanggil, kita harus mengisi hidup kita dengan amal yang baik dan ibadah kepada Allah, agar nanti kalau kita mati, bekal kita menghadap Tuhan sudah cukup.”
“Betul, Raden. Tapi mohon maaf ya, kalau saja Raden sendiri yang menjalani kisah seperti ini, pasti bisa merasakan kepedihannya,” ucap Ki Suryadi sembari tangannya mencoba mengusap air mata putrinya dengan gumaman: “Cup… sudah, Nduk, meneng Nduk, sudah….”
“Semua orang pasti mengalami kehilangan , Ki. Apakah Ki Suryadi belum tahu kalau istriku sudah wafat justru ketika melahirkan putraku yang pertama? Dan putraku itu pun ikut ibundanya menghadap Illahi ?”
“Innaliilahi wa Inna Ilaihi Rajiun…, ya, ya, Nini, sudahlah, dengarkan nasihat Kyai Ahmad. Engkau masih punya ayah, juga kangmasmu si Suryo, yang kutitipkan di sebuah warung nasi di desa Blimbing, milik Ki Darmirin yang kukenal baik.”
“Jadi, Suryo sekarang dititipkan di warung Ki Darmirin itu?”
“Ya, Raden. Ceritanya, kami sedang dalam perjalanan ke pesantren ayahanda Kyai di Tunggul-Kranji. Sembari menunggu pedati sapi yang biasanya mangkal di dekat warung Ki Darmirin, kami masuk warung untuk memesan teh hangat dan kue ketan. Yah, bila aku pulang dari mencari ikan di Brondong, aku memang sesekali mampir ke warung itu untuk membeli makanan buat oleh-oleh anak-istri di rumah.”
“Sewaktu kami minum teh dan berbincang-bincang, Ki Darmirin menceritakan bahwa di tengah malam ia melihat tiga orang berkuda berkasak-kusuk hendak mengetuk warungnya, tapi entah kenapa kok tidak jadi. Saat diintip oleh Ki Darmirin, tiga penunggang kuda itu kemudian memutuskan untuk pergi ke arah selatan. Yang aneh, salah satu di antara mereka juga membawa seorang perempuan kecil yang diikat dan disumpal mulutnya.”
“Aku berpikir, pasti itu rombongan Suradadu yang sedang membawa anakku. Kenapa mereka baru tengah malam itu membawanya ke selatan ya? Kenapa mesti dibawanya berjalan ke arah utara? Mau dibawa ke mana sebenarnya anakku?”
“Aku akhirnya tidak sabar lagi, apalagi aku hanya berjalan kaki, sedangkan Suradadu berkuda. Mumpung hari masih siang, sekitar ba’da Dzuhur, maka aku minta pada Ki Darmirin agar mau menolongku. Ki Darmirin yang kukenal baik dan memang pada dasarnya baik hati itu tentu mau saja menolongku. Akhirnya, kutitipkan Suryo kepadanya untuk beberapa hari, juga kuberi beberapa keping uang emas simpananku, dan kukatakan kepadanya bahwa apabila dalam tempo tujuh hari aku tidak datang menjemput Suryo, kumohon Ki Darmirin sudi menyewakan pedati lembu yang mau membawa Suryo ke pesantren Kyai Nur Iman. Sebab mungkin aku tidak pernah datang lagi kalau aku mati dalam perkelahian melawan Suradadu.”
“Dengan beristirahat sekitar dua kali, aku tiba di Simpangan Pantangan sekitar ba’da Maghrib manakala kulihat ada seseorang yang mengaduh. Rupanya anak itu adalah putra seorang kyai dari Laren yang habis berkelahi dengan Suradadu dalam rangka menolong anakku.”
“Aku jadi dirasuki kebimbangan. Kalau aku menolong tuntas anak itu,maka nanti jejak anakku dan Suradadu hilang, namun jika mau membiarkan dulu tentu saja aku tak tega melihat lukanya yang sedemikian parah. Maka jalan satu-satunya kubopong ia hingga ke mulut Desa Laren dan kuserahkan kepada orang-orang yang rumahnya berada di ujung desa, kuminta dengan sangat untuk mau merawat dan membawanya ke rumah orangtuanya. Kukatakan kepada mereka bahwa anak itu kutemukan sehabis dikeroyok penjahat di Hutan Gampang. Kukatakan juga bahwa aku tergesa-gesa mengejar penjahat itu.”
“Demikianlah, kukejar Suradadu sampai di sarangnya. Mereka tengah berpesta pora minum-minum di rumah utamanya. Mereka sudah lama datang dan melepaskan lelah rupanya, sedangkan aku masih sangat lelah. Karenanya, ketika aku menantang mereka bertempur, aku sangat gampang terdesak. Aku memang terlalu emosional. Dan itu kecerobohan yang kusesali kini. Alhamdulillah, Raden datang menolong segera, Allah mungkin tidak rela kalau kejahatan mau menginjak-injak orang yang membela hak dan kebenaran, maka mengirim Raden yang kukira sudah berkelana jauh,” begitu cerita Ki Suryadi panjang-lebar, sambil sesekali menyeringai menahan sakit kalau tiba-tiba lukanya terasa nyeri.
“Begitulah, Ki Suryadi. Saya ditakdirkan Allah mengikuti terus kisah sampean ini. Aku memang tengah bertamu di rumah Kanjeng Kyai Ali Amin dari Laren saat datang serombongan orang desa (para tetangga sekaligus makmum mengaji Kyai Ali). Mereka datang tergopoh-gopoh mengusung seseorang yang terluka, dan rupanya itu adalah Dimas Anas, putra Kanjeng Kyai Ali Amin yang kedua,” ujar Raden Ahmad.
“Lalu seingatmu, kamu dibawa ke mana saja, Nduk? Ayo, cobalah Ayah dan Kyai Pendekar kamu ceritai,” kata Ki Suryadi pada putrinya yang masih berumur sekitar delapan tahun itu, tapi tentunya dengan usia itu sudah bisa mengingat dan menceritakan kembali.
“Ya, pada mulanya saya ikut Emak mencuci pakaian di telaga, saya mandi-mandi di tepian telaga. Setelah selesai mandi, saya berpakaian dan disuruh Emak menjemuri pakaian yang sudah dibilas di umpak-umpak batu besar. Lalu Emakpun mandi. Tiba-tiba, ada serombongan orang jahat menyergapku dan menyergap Emak. Aku dibawa di atas kuda, kemudian dibawa menjauh. Dari jauh, aku mendengar Emak menjerit-jerit sampai lama, hingga pada akhirnya mereka datang dan membawaku terus ke arah utara, lalu berbelok ke Gunung Piluk atau Bukit Gajah.”
“Di
Tapi rupanya mereka di tengah hutan membelok lagi ke arah dalam, kudengar mereka menyebut-nyebut Bukit Jagul. Di
Tapi rupanya sang pemimpin malah marah: ‘Goblok kamu, Rusmadi! Kenapa kau bunuh Mbah Nogodino? Kita akan celaka nanti dikutuk oleh arwahnya.”
“‘Tapi ular itu ular sowo ganas dan kepalanya hendak mematuk sampean, Ki Sura.”
“‘Mematuk? Mbah Nogodino menjulurkan kepalanya itu untuk mengelus-elus aku, hendak memberi air liur keselamatan. Goblok kamu. Pokoknya kalau kita semua celaka, kamulah penyebabnya. Dasar gentong nasi tak berotak, cuma mengandalkan badanmu yang gede saja,” kata Ki Suradadu uring-uringan.
Pada saat itu, terdengar lamat-lamat aum harimau berkali-kali. Kami semua ketakutan.
“‘Nah, kamu dengar itu. Itu Mbah Kyai Loreng mengamuk karena anak buahnya kamu bunuh. Ia sedang mencari kita, ia hendak menuntut balas, ayo kita sembunyi, naik ke atas pohon. “
Mereka semua lantas naik ke atas pohon dan terus di situ dengan gemetaran sampai sore hari menjelang matahari terbenam.
“‘Ayo kita turun cepat, sudah sandek olo. Ini waktu yang buruk, jangan di gunung keramat ini.”
Mereka semua lantas turun dari pohon, dan setelah menyembah Bukit Jagul, mereka mengendarai kembali kudanya yang ditambatkan di kaki bukit, pergi meninggalkan Bukit Jagul. Sampai di simpangan di dalam hutan, tiba-tiba ada seorang pemuda yang mengganggu jalannya rombongan penjahat yang menculikku itu. Tapi pemuda yang sangat pemberani itu dihajar sampai aku tidak kuat melihatnya, dan aku pun pingsan. Aku tidak ingat apa-apa, sampai kemudian aku sadar, aku sudah berada di dalam kamar bersama seorang wanita genit yang berusaha berbaik-baik memanjakanku. Namun aku tidak sudi disentuhnya, aku menangis terus di pojok kamar, sampai aku kemudian ditinggalkannya sendirian di dalam kamar, lalu dikuncinya dari luar.
Karena lelah, aku pun tertidur. Dan ketika terdengar suara-suara ribut, juga hawa yang sangat panas, aku terbangun dan menangis, tapi tak ada siapa-siapa yang mau menolongku sampai aku ditolong oleh Kanjeng Kyai Pendekar ini,” begitu cerita Nini panjang-lebar dengan
“Hmmm… kau anak yang tabah, Nduk. Tapi sesungguhnya Suradadu itu pengecut, sebab ia mengira macan yang disebutnya Mbah Kyai Loreng itu mengaum karena mengamuk kepadanya, padahal macan itu tengah berkelahi melawan aku. Bangkainya sudah kujual kepada putra Kanjeng Kyai Ali Amin, kakak pemuda yang hendak menolongmu itu. Nah, begitulah, jangan percaya pada takhayul-takhayul yang diciptakan oleh orang-orang bodoh. Jangan takut kepada apa-apa selain kepada Allah. Kalau kita benar, Allah pasti akan menolong kita,” nasihat Raden Ahmad sambil mengelus-elus rambut Nini.
“Jadi… jadi… Kyai Pendekar sempat berkelahi dengan macan?” Tanya Ki Suryadi dan Raden Ahmad mengangguk-angguk. Tiba-tiba, terdengar banyak decak kagum serta suara-suara antara takut, kagum dan hormat pada kesaktian Raden Ahmad. Tatkala Raden Ahmad menoleh, ternyata tiga lelaki dan beberapa wanita bekas anak buah dan tawanan Suradadu berkumpul di dekat mereka, serta mendengar setiap pembicaraan sejak tadi. Maka mereka menyiratkan kekaguman sekaligus kepasrahan untuk segera ingin ikut mengabdi kepada Pendekar Sendang Drajat.
“Bagaimana keadaan Nyai yang tadi?” tanya Raden Ahmad kepada mereka yang duduk-duduk berjongkok bagaikan abdi dalem tepat tiga langkah di belakang Raden Ahmad.
Mereka saling berpandangan dan menoleh ke arah Nyai Lasih berada.
Tapi mereka tidak menemukan Nyai Lasih di tempat semula. Kepala mereka kembali melongok-longok, mencari di mana kira-kira Nyai Lasih berada, tapi kepekatan malam menghalangi daya pandang mereka, sementara api sudah benar-benar padam, tinggal tumpukan bara dan abu di bekas rumah yang terbakar.
Tiba-tiba, terdengar lamat-lamat suara tembang di kejauhan:
“…kembang enceng-enceng
kembange Suradadu
mbiyen renteng-renteng
saiki kowe mlayu… huuu… huuuu….”
Tembang itu diakhiri tangis yang memilukan.
“Nyai Lasih pergi ke tengah hutan,” desis seseorang.
“Wah, nanti dimakan macan dia,” sahut yang lain.
“Ah, paling ia sedang merenung di tepi telaga di lembah
“Kasihan…,” desis salah seorang bekas anak buah Suradadu.
“Itu ganjaran terhadap dosa-dosanya sewaktu menyekap kita dan memaksa kita jadi pelacur,” timpuk seorang wanita muda.
“Ah, itu juga dosa si Supo, Karmo, dan Kasdun ini,” tunjuk seorang wanita muda yang lain, membuat ketiga bekas anak buah Suradadu yang tersisa itu semakin tertunduk.
“Seharusnya, ketiga orang ini juga patut dibunuh, Kyai Pendekar!” tegas wanita muda yang mengutuk Nyai Lasih tadi.
“Sudahlah, Nyai…,” sela Raden Ahmad.
“Kami belum Nyai, belum bersuami kok…,” sela seorang wanita muda yang tampak berani dan genit.
“Belum bersuami tapi sudah merasakan ya…,” sembur yang lain.
“Heh… yang sopan kalian, ingat di depan siapa kalian berbicara? Ini di depan seorang Kyai, jangan anggap sama seperti kehidupan sehari-hari kalian!” tegur Karmo yang sejak tadi telinganya panas karena merasa sebagai bekas anak buah Suradadu dilecehkan oleh wanita-wanita yang dulu takut kepadanya, tapi kini di depan Pendekar Sendang Drajat berani berkata seenak perutnya. Ingin rasanya ia menggampar mulut mereka, namun posisinya sangat tidak memungkinkan, ia begitu merasa rendah di hadapan Pendekar Sendang Drajat.
Sekali lagi, mulut mereka terdiam manakala terlihat mata Pendekar Sendang Drajat juga memandang tajam ke arah mereka dengan menyimpan sedikit kegusaran.
“Sekarang yang penting, kalian bertobatlah, sebab Allah itu Maha Pemaaf, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Tobat yang benar-benar tobat, dan tidak mengulangi kesalahan masa lalu. Ingatlah, cerita mengenai Raden Mas Said yang dulu benggol penjahat, lalu bertobat dan akhirnya menjadi ulama yang pandai dan sakti, dan pada akhirnya diangkat sebagai sunan dengan gelar Sunan Kalijaga. Hendaklah kalian becermin dari kisah Sunan Kalijaga itu,” tutur Raden Ahmad, dan semua kepala itu pun mengangguk-angguk khidmad.
Tiba-tiba, terdengar kokok ayam hutan, pertanda hari menjelang pagi. Dan memang tak lama kemudian, langit sebelah timur mulai menampakkan fajar kadzib, lalu berganti dengan fajar siddik.
“Sudah menjelang pagi, kini kuminta kalian yang laki-laki menyiapkan kuburan bagi yang telah tewas, dan kuminta yang perempuan merawat Ki Suryadi. Aku akan shalat Subuh dan mencari akar tumbuhan di hutan yang bisa dipakai sebagai ramuan obat untuk Ki Suryadi,” kata Raden Ahmad sambil segera bangkit dan meminta salah seorang wanita itu menunjukkan ancar-ancar letak telaga.
Sampai di telaga, ia terkejut melihat sesosok tubuh wanita terapung-apung. Ia segera melepas semua baju luarnya dan merenangi telaga. Tubuh itu masih bernapas, tapi sudah sedemikian lemah.
“Hah? Nyai Lasih, Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.” Segera diangkatnya tubuh itu ke tepi telaga.
Tapi di tepi telaga, Nyai Lasih menarik napas tersendat-sendat dan akhirnya mengembuskan napas, dan tubuhnya pun kaku.
“Apakah Nyai Lasih bunuh diri? Ataukah terpeleset lalu tercebur ke dalam telaga? Hmmm, kalau ia bunuh diri, ini adalah nasib
Segera Raden Ahmad mengambil air wudhu dan menunaikan shalat Subuh di dekat telaga, di atas tanah yang berrumput bersih yang digelari sajadah.
Ia hanya shalat Subuh, tidak ditambah shalat jenazah, sebab menurut pandangannya, Nyai Lasih meninggal dalam keadaan belum bertobat, alias kafir, sedangkan al-Quran melarang menshalati mayat orang yang meninggal dalam keadaan kufur atau kafir.
Selesai shalat, ia memanggul mayat Nyai Lasih dan membawanya kembali ke bekas markas Suradadu.
“Kutemukan mayatnya setelah ia terapung-apung di telaga,” ujar Raden Ahmad. “Tambah satu kuburan lagi yang harus kalian gali, nah, kuburkan juga Nyai Lasih dengan baik,” kata Raden Ahmad lagi kepada Supo, Karmo dan Kasdun yang sduah mulai mencangkuli tanah di belakang markas Suradadu. Setelah itu, Raden Ahmad mencari akar-akaran dan daun-daunan di tepi hutan sekitar markas Suradadu itu, untuk obat bagi Ki Suryadi.
***
Sementara itu, sepeninggal Pendekar Sendang Drajat, Kanjeng Nyai Ali Amin menangis meraung-raung menangisi putra keduanya, Dimas Anas.
“Sudahlah, Kanjeng Ibu, mudah-mudahan saja ramuan dari Kangmas Pendekar Sendang Drajat ini segera mengeringkan luka-luka Dimas Anas,” Raden Khavid menghibur ibundanya.
“Kenapa terjadi kesusahan seperti ini justru ketika ayahandamu sedang bepergian jauh, Ngger? Ataukah sebaiknya kamu pergi menemui Wakgus Kyai di Slempit?” ujar Nyai Kanjeng Ali Amin lagi kepada Dimas Khavid.
“Untuk apa, Kanjeng Ibu. Bukankah nanti itu hanya akan merepoti Wakgus Kyai? Soal luka, Dimas Anas bukankah sudah mendapatkan obat dari Kangmas Pendekar Sendang Drajat?”
“Kenapa mesti secepat itu Nakmas Sendang Drajat pergi lagi? Biasanya penjenengane kalau berada di Laren sampai dua pekan lebih?” tanya Kanjeng Nyai Ali Amin seraya menghapus sisa-sisa air matanya.
“Beliau langsung pergi mengejar penjahat yang melukai Dimas Anas.”
“Ooh, syukurlah kalau begitu.”
Malam itu, bagaikan masih kanak-kanak, Dimas Anas tidur ditunggui Kanjeng Nyai yang memanjakan putra-putranya sedemikian rupa sejak masih kanak-kanak hingga dewasa.
Esok paginya, saat fajar menyingsing di ufuk timur, dan matahari masih bersembunyi, hanya menyorotkan seleret sinar merah di langit timur, membayang di air Bengawan Solo yang mengusap tangkis Gedangan, di seberang timur telatah Laren, para penduduk yang pergi mandi pagi di bengawan terkejut bukan kepalang demi melihat sebuah perahu layar besar yang sangat aneh bentuknya, dengan ukir-ukiran di sepanjang badan perahu yang indah sekali, lebih besar dari perahu-perahu yang pernah dibawa berlabuh di Pelabuhan Pasar Nggubeh Laren, baik itu perahu-perahu dagang dari Gujarat, Champa, Sin Kiang, maupun dari Arab dan Persia. Perahu itu datang dari hilir Bengawan Solo atau dari arah timur.
Ketika perahu itu mendekat ke tambangan telatah Laren, yang lebih mengherankan bagi mereka adalah awak-awak perahu di dalamnya. Orang-orang itu memiliki postur tubuh aneh, lain dengan yang selama ini mereka lihat.
Orang Arab, Persi, dan India yang pernah mendarat di Pelabuhan Pasar Nggubeh Laren tak begitu beda dengan penduduk pada umumnya, hanya hidung mereka lebih mancung, bahkan beberapa orang Arab ada yang kemudian kawin dan menetap di Pringgoboyo dan Parengan, desa seberang bengawan, yakni Sayyid Akwan dan Sayyid Said.
Orang Champa dan Sin Kiang pun bagi mereka tidak aneh, sama-sama berambut hitam, cuma kulitnya sangat kuning bersih dan matanya sipit seperti orang habis bangun tidur. Satu dua orang dari merekapun ada yang menetap di Pringgoboyo.
Kali ini, yang mereka lihat, orang-orangnya berbadan besar-besar, bermata kecokelatan dan berambut cokelat kehitaman. Bahkan yang lebih aneh adalah dua orang yang kelihatan sangat dihormati oleh para awak kapal itu sendiri. Di samping berbadan gede, mereka berdua memiliki mata berwarna biru, rambut kuning keperakan, dan kulit putih seperti dicat dengan kapur gamping.
Orang-orang melihat dengan ketakjuban luar biasa, di pagi dingin seperti itu, orang-orang perahu itu enak saja bertelanjang badan, hanya memakai celana sebatas lutut, rambut mereka panjang seperti rambut beberapa benggol penjahat yang pernah mencoba merampok di Laren, tapi rambut orang-orang perahu besar itu diikat dan dikucir rapi dengan hiasan pita. Mereka duduk-duduk di atas peti dan tong di geladak perahu, sambil minum-minum dari botol besar, besar kemungkinan yang mereka minum adalah arak.
Beberapa orang yang keheranan segera berbalik dan melapor kepada Ki Jogoboyo.
“Nyuwun duko Ki Jogoboyo, di bengawan ada perahu besar berisi orang-orang yang wajahnya sangat menakutkan seperti raksasa-raksasa dalam dongengan. Apakah mereka perampok?” demikian lapor beberapa orang dengan wajah yang penuh kecemasan.
Segera Ki Jogoboyo mengambil kerisnya, dan bergegas ke tlatah bengawan diiringi beberapa orang yang tadi melapor.
Ki Jogoboyo dengan hati was-was mencoba mendekat ke perahu dan melihat seorang yang berpakaian dinas mirip pengawal raja dan mengenakan topi seperti contong bungkus berdiri tegak di tepi perahu serta melambai-lambaikan tangan sembari tersenyum.
“Amigo! Amigo!” katanya, dan Ki Jogoboyo bersama orang-orang yang ikut berkerumun di belakangnya bingung, tidak mengerti arti kata-kata orang berpakaian balatentara itu, akan tetapi mereka menangkap makna dari maksud orang itu yang datang dengan maksud damai, terlihat dari senyumnya yang lebar.
Bahkan kemudian beberapa orang anak buah orang itu menurunkan perahu kecil dan sebagiannya lagi membawa bungkusan. Lalu orang yang gagah tadi ikut turun ke perahu kecil, perahu tersebut didayung mendekati tlatah, dan sebentar pun sampai. Memang, jarak perahu besar itu ditambatkan dengan tlatah pesisir bengawan hanya sekitar sepuluh jengkal atau
Orang asing itu dengan tangkas turun dari perahu dan mengulurkan tangan menyalami Ki Jogoboyo. “Capitein Alphonso,” katanya dengan suara berat dan tegas.
Ki Jogoboyo menyambut uluran tangan itu dan segera membungkuk hormat, sambil tersenyum lebar. “Tuan adalah tamu kami, rupanya Tuan adalah pengelana dari jauh, dari negeri mana Tuan?”
Meski orang asing itu tidak mengerti, tapi ia tersenyum terus, dan berkata dengan unggah-ungguh perkenalan:
“Capitein Alphonso,
“Haaa… Mister Baron Lodewijk von Oranje, Dutchland….”
“Oooo… Tuan Mister Baron Londo….”
“Yeah, and… Sir Wilson,
“Hahaha… yach, yach….”
“Dan Anda… Tuan Kapitein?”
“Hahaha… Bravo….”
“Waaah… sulit sekali ya bahasa Tuan. Tapi, mari-mari berkunjung ke rumah kami, Tuan. Hei, siapa ini ya… Sarko, Nyono, Urip, Gesang, Raji, dan semuanya, ambil pisang di sawah desa, juga pepaya yang masak, bawalah ke rumahku segera, serahkan kepada Nyai Jogoboyo, kita ketamuan pengelana dari jauh, dan mereka adalah orang yang ramah dan baik, bukan perampok seperti yang kalian takutkan. Ayo segera kerjakan… Mari Tuan-tuan, ikut kami…,” kata Jogoboyo sambil mendahului berjalan.
Iring-iringan itu naik tangkis bengawan dan menuju rumah Ki Jogoboyo yang berjarak sekitar
Dan iring-iringan itu menarik perhatian Dimas Khavid yang sedang memberi makan unggas-unggas piaraannya yang dikurung dalam kurungan bambu besar, mirip kebun binatang di halaman rumah.
Begitulah, tengah ia memberi makan dengan tutuhan beras dicampur jagung, ia melihat rombongan orang asing yang membawa sebuah bungkusan besar mengiringi Ki Jogoboyo yang berwajah sumringah.
“Basri! Basri!” panggilnya kepada Basri, kepala keamanan atau tetua pesuruh di rumah besar Kyai Ali Amin itu. Seluruhnya di rumah itu ada lima pesuruh/pembantu di samping Basri, yakni Rakim yang biasanya menemani Kyai Ali Amin berdagang ke desa-desa sekitar tepian bengawan, Achad yang menjadi asisten Kyai Ali Amin dalam membina para santri dan mengumpulkan jamaah pengajian, Bejo yang biasanya disuruh mengawasi sawah dan perkebunan, serta dua lainnya adalah wanita, yakni Simul dan Ramlani yang mengurusi dapur serta pekerjaan perempuan lainnya.
“Saya Denmas,” jawab Basri sambil tergopoh-gopoh lari mendekat.
“Coba kamu periksa, siapa tamu-tamu asing di rumah Ki Jogoboyo itu! Apakah orang baik-baik ataukah orang jahat.”
Basri segera menunaikan tugasnya. Ia melihat rombongan tamu itu dipersilakan ikut Ki Jogoboyo ke rumahnya, dan setelah berbincang-bincang beberapa lama, langsung diajak ke pendopo kelurahan. Ki Bekel Jogosuro menyambut agak terheran-heran, akan tetapi segera saja mereka kelihatan tertawa-tawa akrab, entah berkomunikasi dengan bahasa apa. Warga desa mulai berjubel menonton dari luar pendopo.
Basri mendesak kerumunan warga itu dan berusaha mendapatkan tempat di muka, agar bisa melihat suasana dengan jelas. Semua orang sibuk tercengang-cengang dan berbisik satu sama lain perihal tamu-tamu asing yang tampak aneh itu.
“Siapakah mereka itu?” tanya Basri kepada seseorang yang kelihatannya paling tahu mengenai tamu itu, yakni Nyono.
“Mereka pengelana dari jauh, dari Negara Portugis, Londo dan Inggris. Konon rumah atau negara mereka lebih jauh dari Negeri Mekkah. Kapal mereka besar, layarnya banyak, dan dinding-dinding kapalnya bergambar ukiran bagus sekali. Kulit mereka agak aneh ya? Belum pernah ada orang seperti itu yang datang di Pelabuhan Nggubeh sini ya?”
Orang-orang pun kembali menggunjingkan tamu asing itu, ada yang menyebut orang yang bule itu orang jadi-jadian dan sebagainya.
“Tapi yang kulitnya putih masih ada di perahu. Kita melihat yang berkulit putih itu yok,” ujar salah seorang warga dan kemudian beberapa dari mereka berangkat melihat dua tamu yang berkulit putih tersebut, beberapa yang lain tetap berkerumun di luar pendopo kelurahan, melihat suasana penyambutan tamu-tamu asing itu. Basri juga memilih untuk melihat di pendopo.
Terlihat pemimpin rombongan membuka bungkusan hadiah yang dipersembahkan kepada Ki Bekel dan Ki Jogoboyo, isinya ternyata minuman keras.
“Wah, ini minuman keras bermutu tinggi. Mari kita coba Ki Jogoboyo, rasakan perbedaannya dengan arak tape buatan kita,” ujar Ki Bekel.
Sementara itu, hidangan buah-buahan pepaya dan pisang mulai disuguhkan oleh para pembantu Ki Bekel. Para tamu dipersilakan mencicipi buah-buahan tersebut, sedangkan Ki Bekel dan Ki Jogoboyo mulai meneguk minuman keras hadiah dari tamu asing itu. Dua orang tetua desa itu akhirnya mabuk, tertawa banyak dan berbicara banyak, sambil merangkul-rangkul tamu asing itu.
“Wah, kurang ajar. Para tamu asing itu adalah orang-orang kafir penyebar minuman keras.ini harus kulaporkan kepada Denmas Khavid!” ujar Basri geram. Orang-orang yang berkerumun di depan pendopo pun banyak yang tidak senang kepada tamu asing itu. Tapi beberapa orang yang memang penggemar minum, malah menitikkan air liur ingin mencicipi minuman dari negeri jauh itu.
Basri kemudian juga menuju ke bengawan, melihat-lihat bentuk dan suasana perahu besar orang asing itu. Dan, dilihatnya dua orang berkulit putih itu didampingi oleh sekitar lima orang awak kapal Portugis sedang membagi-bagikan rokok cerutu kepada setiap orang yang berkerumun di tlatah bengawan, sebatang cerutu untuk satu orang. Di antara penduduk yang berkerumun, ada juga yang tidak mau sebab tidak merokok.
“Please, please, smoking!” seru si kulit putih yang berpakaian jubah mirip raja negeri dongeng itu.
“Enak ya rokok plis-plis ini, meski agak pahit rasanya,” ujar salah seorang penduduk bernama Kasrip.
“Tuan, negeri Tuan jauh sekali ya? Katanya lebih jauh dari Mekkah ya?” tanya Sunar yang agak tinggi pengetahuannya, sebab senang bertanya kepada orang-orang pandai.
“Mecca? That is the ritual city of Moslem. But my country is far far away, in the west. I’m not Moslem, I’m Christian.”
“Oooh, Tuan bukan orang Muslim? Tuan orang Kristen? Berarti Tuan sama dengan orang Hindu ya, percaya kepada berhala dan takhayul-takhayul,” sergah Basri dengan amat berani.
“Hah? I don’t understand with your speak! Hei, what’s that? Is that a market? I mean Bazaar?” karena mis-komunikasi, orang Inggris itu lalu mengalihkan pembicaraan, ia tertarik kepada bangunan pasar di atas tangkis bengawan.
“Bazaar? Itu pasar, Tuan. Namanya Pasar Nggubeh. Dinamakan begitu karena dekat Kubah Masjid Jami’ di sebelah pasar,” ujar Sunar menerangkan. Sedikit-sedikit ia bisa menangkap makna bahasa asing si bangsawan pengelana dari Inggris itu.
“O, yes, passar. What’s name, Nggubeh? Ooh, that is same with the name of the market in Kasunanan Ampel in Surabaya, those name is very-very same, Passar Nggubah … look with a little slip of tongue Nggubah-Nggubeh….”
“Ooh, jadi pasar di Kasunanan Ampel di Surabaya namanya juga Pasar Nggubah ya, Tuan Sir. Yaa, tentu saja, sebab di sana pasarnya ‘kan juga dekat kubah Masjid Sunan Ampel!”
Tiba-tiba, orang-orang melihat sebuah perahu kecil berhiaskan lukisan bintang-bintang bertolak dari seberang selatan menuju ke tlatah situ.
“Itu perahu Sayyid Said,” desis beberapa orang.
Rupanya dengan cepat dari mulut ke mulut,kabar mengenai bangsawan Belanda dan Inggris yang sedang melakukan perjalanan turistis dengan menyewa kapal Portugis sudah didengar di seluruh Laren, bahkan sudah sampai di Desa Parengan di seberang bengawan. Dan Sayyid Said, pedagang dari Arab yang kawin dan menetap di Parengan serta mengusahakan pabrik pemintalan kapas sekaligus penenunan sarung juga mendengar hal itu.
Perahu Sayyid Said didayung oleh pembantunya mendekati kapal besar itu. “Ahlan wa Sahlan… Welcome, welcome,” serunya seraya mengangkat tangannya.
“Ahha… that is Arab man, and he speaks English…,” kata dua orang Barat yang sedang dikerumuni penduduk itu.
“Itu adalah Tuan Sayyid Said, orang Arab yang tinggal dan menetap di Parengan, Tuan. Dia pedagang dan juragan sarung,” kata Sunar lagi.
“Ooh… so I’m sorry, friends. I must visit that guy,” kata Sir Wilson kepada orang-orang, dan ia pun kembali ke perahu diikuti Baron Lodewijk dan para pengawal Portugis. Perahu didayung kembali ke kapal, dan Sir Wilson berseru kepada Sayid Said: “Well, well… please to visit my ship, I’m glad to meet you, Sir Saeed.”
“Ah, you know my name?” Tanya Sayyid Said keheranan, sementara perahunya sudah merapat di sebelah kapal, dan ia pun naik melalui tangga tali mengikuti orang-orang Barat itu.
“I know your name from that people,” kata Sir Wilson sambil menjabat tangan Sayyid Said, dan Sayyid itu juga berjabat tangan dengan beberapa orang Portugis lainnya.
Para penduduk di tlatah bengawan masih saja melihat pemandangan yang langka itu. “Sayyid Said bisa berbahasa seperti orang Inggris itu ya,” seru beberapa orang, dan mereka kembali memperdebatkan apakah Sayyid Said juga disuguhi rokok cerutu dan wiski atau arak Inggris, kedua barang yang menurut Sayyid termasuk haram hukumnya.
Basri merasa sudah cukup menyelidiki, ia pun pergi ke atas tangkis dan pulang, dan ia menemukan Dimas Khavid sudah bersiap-siap dengan baju bagusnya, juga sebilah keris terselip di sabuknya.
“Siapa mereka, Basri?”
“Mereka adalah dua bangsawan dari negeri jauh, labih jauh dari Negeri Mekkah. Seorang dari Negara Belanda, seorang lagi dari Negara Inggris. Mereka mengadakan perjalanan darmawisata keliling dunia menyewa kapal Portugis. Yang orang Portugis kulitnya hampir sama dengan kulit kita, cuma agak terang dan hidungnya mancung seperti orang Arab, bedanya orang Arab ‘kan matanya tajam, Denmas. Oh ya, orang-orang itu bukan orang Muslim, Denmas. Hindu juga bukan, Buddha juga bukan.”
“Lalu apa?”
“Kristen. Itu agama baru ya, Denmas?”
“Mungkin itu yang disebut di al-Quran sebagai kaum Nasrani. Namun menurut sejarah para khalifah Islam di tanah Arab, orang-orang Kristen itu memusuhi Islam dalam Perang Salib yang sangat dahsyat.”
“Tapi Sayyid Said tadi datang menemui mereka, Denmas, dan diajak naik ke kapal mereka.”
“Ya, tapi dalam hal ini mungkin saja mereka bukannya sedang menyebarkan agama, jadi tidak mencari permusuhan. Sayyid Said ‘kan pedagang, barangkali ia menawarkan sarungnya, atau mau membeli barang-barang dari negeri Belanda atau Inggris yang langka di sini.Bukankah begitu adat para pedagang ?”
“Denmas juga akan ke kapal itu untuk membeli-beli?”
“Aku akan memeriksanya. Nah, kuserahkan rumah dan padhepokan padamu, aku akan naik ke kapal itu.”
Begitulah, dengan agak segan dan melangkah hati-hati, Dimas Khavid menuruni tangkis dan pergi ke tlatah bengawan. Para penduduk yang tadi berkerumun tinggal sedikit, banyak yang sudah pulang atau menonton dari atas tangkis, di bawah pohon kuwangin (trembesi).
Ia melihat, di atas kapal, Sayyid Said asyik berbincang-bincang dengan orang-orang asing itu. Tiba-tiba kepala Sayyid Said menoleh ke arah Dhimas Khavid, dan tiba-tiba Sayyid itu berbicara serius dengan kedua bangsawan Barat itu. Setelah itu, Sayyid berdiri dan melambaikan tangan kepada Dimas Khavid, sambil berseru: “Ahlan wa Sahlan ya Shohib. Kemari Dimas Khavid, kita mendapat tamu dua bangsawan dari negeri jauh, Belanda dan Inggris. Aku sedang menawarkan sarung kepada mereka, untuk ditukar dengan barang-barang pecah-belah dari Inggris dan roti mentega keju dari Belanda. Jumadi, seberangkan Dimas Khavid ke kapal ini,” perintah Sayyid Said kepada pembantunya.
Pembantunya segera melepaskan tali ikatan antara perahunya dengan tangga kapal, dan segera mendayung ke tepian tlatah. Dimas Khavid melangkah ke dalam perahu dan kembali perahu didayung mendekati kapal, Dimas Khavid meraih tangga tali dan naik dengan hati-hati.
Di atas geladak kapal, dilihatnya Sayyid Said dengan dua orang yang berkulit putih dan berambut aneh, kuning keemasan, dikelilingi pengawal Portugis yang bersenjata.
“Welcome, welcome… ah… I see, you are David, young man of the richest man in Pasar Nggubeh … haha… please, please….”
Sejenak Dimas Khavid bingung dengan bahasa yang tidak dapat dimengertinya itu.
“Namanya Dimas Khavid, sir. And not David,” kata Sayyid Said yang terkadang juga berbicara dalam dua bahasa.
“Ah, I’m sorry, it’s so easy to call David, and so difficult to call Khavid.”
“Lhhaa itu, bisa gitu kok.”
“Hahahaha… yeah, yeah….” Mereka semua tertawa atas kelucuan yang ditimbulkan keterbatasan pemahaman bahasa masing-masing. Barangkali hanya tertawa itulah bahasa universal yang bisa dimengerti oleh semua bangsa. Tertawa adalah lambang keakraban, yang bisa menghilangkan kecurigaan-kecurigaan yang tertanam sebelumnya.
Dimas Khavid ikut tertawa-tawa kecil dan menyadari betapa tololnya ia karena tidak akan mengerti apapun yang diperbincangkan di situ.
“Sit down please, young man.”
“Anda dipersilakan duduk, Dimas Khavid.”
Dimas Khavid duduk di kursi ukir menghadap meja panjang bahkan panjang sekali, di meja ada buah-buahan anggur, apel dan jeruk, roti dan minuman. Sayyid Said memilih tidak minum, tapi ia menghormati tamu asing itu untuk bebas meminum minumannya. Di atas meja di depan Sayyid Said, bertumpuk sarung-sarung yang ditawarkan kepada kedua bangsawan Eropa itu.
Sayyid Said bercerita kepada Dimas Khavid perihal kedua bangsawan itu berdasarkan cerita dari mulut kedua bangsawan itu yang barusan didengarnya.
Mereka adalah bangsawan yang tertarik keliling dunia setelah membaca buku petualangan Marcopolo, seorang pengelana dari Venesia, Italia, anak seorang pedagang pengembara. Marcopolo, di sekitar tahun 1275 (jadi lebih dari 240 tahun sebelumnya), telah menjelajah sampai ke negeri China, Semenanjung Malaka, ujung Sumatera, India, Mekkah, dan kembali ke Venesia. Dua bangsawan itu juga berlayar menyusuri jalur Marcopolo, namun dari arah yang berkebalikan, dari tepian Afrika, Mekkah, India, Sumatera, Malaka, tapi terus ke Banten, lantas tiba-tiba tertarik dengan kisah sunan-sunan yang sakti dan penuh misteri. Ia pun menyusur Pantai Utara, mengunjungi Demak, Kudus, Tuban, Sedayu, Gresik, Surabaya. Lalu kembali ke Gresik terus masuk ke pedalaman, melihat kyai-kyai yang mendirikan pesantren di sepanjang Bengawan Solo, yakni kyai-kyai yang diorganisasi oleh Kyai Ageng Sedayu atau Sunan Sedayu di Sedayulawas. Konon mereka telah mengunjungi Dukun, Tracal, Pilang, dan kini mereka akan mengunjungi Pringgoboyo. Makanya mereka mampir dulu di Laren, karena mereka mendengar informasi, Pringgoboyo itu dekat dengan Pelabuhan Pasar Nggubeh Laren.
“Kok aneh, orang beragama Kristen tertarik dengan pesantren? Apakah mereka mau masuk Islam?” sergah Dimas Khavid.
“Mungkin saja. Dalam perbincangan tadi, mereka menceritakan tentang perpecahan di lingkungan gereja di Eropa. Gereja kini terpecah-pecah dalam berbagai aliran yang saling bertentangan. Ada yang menganggap Tuhan itu satu, ada yang menganggap Tuhan itu tiga, ada yang menganggap Tuhan itu pernah turun ke dunia berbentuk manusia bernama Yesus Kristus. Jadi, dua bangsawan ini merasa bingung dengan perpecahan agama Kristen di Eropa. Kini, mereka sedang mengumpulkan informasi mengenai agama Islam, mereka berdebat dan berdiskusi dengan berbagai kyai, untuk studi perbandingan agama,” jelas Sayid Said.
“Kalau mereka berniat masuk Islam, kenapa kok masih suka minum minuman keras?”
“Hahahahaha… Dimas, Dimas… Anda ini bagaimana? Mereka ‘kan belum Islam, mereka ya belum tahu hukum-hukum Islam. Justru kita harus mendoakan semoga beliau-beliau itu segera mendapatkan cahaya keislaman dari Allah.”
“Aku ....eengghh... perasaanku agak meragukan niat baik orang-orang bule ini...” cetus Dimas Khavid di dekat telinga Sayyid Said.
Sayyid Said sejenak mengerutkan keningnya.
Tetapi kemudian kembali Sayyid Said berbincang-bincang dengan dua bangsawan itu. Sayyid mengatakan kepada mereka, bahwa Pringgoboyo letaknya di tepi anak Bengawan Pringgoboyo, yakni melalui anak sungai yang masuk ke dalam menuju arah selatan. Sayyid Said juga menawarkan diri sebagai pendamping dan penerjemah bahasa.
Dua bangsawan itu lantas mempersilakan Dimas Khavid menikmati buah anggur dan apel serta roti mentega keju yang tersedia di meja.
“Apakah semua makanan tersebut halal, Sayyid?”
“Ooh, halal, Dimas. Silakan mencobanya!”
Dimas Khavid mencoba anggur, ia menyeringai merasakan buah yang baru pertama kali dicobanya itu. Ia juga mencoba seiris apel, hmm… manis campur kecut, dikunyahnya roti mentega keju, terasa asin.
“Ahh, makanan orang Barat kok tak ada yang manis ya?”
Sayyid Said tertawa, dan setelah kedua bangsawan tadi diberitahu komentar Dimas Khavid, mereka juga tertawa.
Matahari sudah di tengah langit, di atas ubun-ubun tepat, pertanda sebentar lagi sudah waktunya shalat Dzuhur di rumah.
Baron memberinya hadiah sepatu boot, dan Dimas Khavid melepas cincin emas ukiran ular naga buatan Sendang Duwur yang dibelinya dari Pendekar Sendang Drajat tiga tahun yang lalu.Baron amat girang dengan pertukaran hadiah tersebut.
“Apakah Dimas Khavid tidak membeli sarung?” tanya Sayyid Said.
“Baiklah aku membeli dua saja”.
“Assalamu’alaikum ya Sayid. Mari Baron dan Sir Wilson. Kalau mau, mari singgah di rumahku.”
Sayyid Said menerjemahkan kalimat Dimas Khavid ke dalam bahasa Inggris, dan kemudian Sir Wilson menyatakan terima kasih sambil minta maaf sebab tidak bisa memenuhi undangan itu, siang itu mereka harus segera memasuki anak Bengawan Pringgoboyo untuk menemui Kyai Pringgoboyo. Mereka menunggu kedatangan Kapten Alphonso Macapagal.
Dimas Khavid menuruni kapal dan diantar oleh perahu Jumadi ke tepian tlatah, lalu dengan mengepit sarung yang ia beli dari Sayyid Said, dan sepasang sepatu boot pemberian Baron Lodewijk, ia berjalan cepat melintasi pasir tlatah yang telah mulai panas terasa di kaki.
“Ah, aku tolol, ‘kan sekarang aku punya sepatu? Bukankah fungsi sepatu untuk melindungi kaki? Kenapa aku harus eman-eman? Seperti petuah Kangmas Sendang Drajat, barang kalau dipakai sesuai fungsinya itu namanya bermanfaat, tapi kalau sekadar untuk pamer itu riya’, itu mudhorot,” pikirnya sembari memasang sepatu boot di kakinya, dan diamat-amatinya… hmmm… menambah gagah penampilanku, batin Dimas Khavid. Tapi lantas disadarinya kembali bahwa ia telah berlaku sombong dengan memuji dirinya sendiri, padahal hanya Allah yang boleh dipuji.
“Hmmm… agama Islam itu penuh aturan, tapi ‘kan gunanya untuk menertibkan umat manusia. Tanpa ketertiban, umat manusia akan berlaku sombong, adigang adigung adiguna. Lihat saja kelakuan manusia yang sombong, sangat memuakkan dan membikin masyarakat tidak tenteram.”
Tengah ia melamunkan sepatu barunya itu, Dimas Khavid dikejutkan suara-suara seperti orang-orang yang mabuk, sehingga kata-kata yang keluar adalah kata-kata menceracau dan tawa terbahak-bahak.
Ternyata memang sekitar enam orang prajurit-pelaut Portugis yang wajahnya mirip bajak-bajak laut itu menuruni tangkis dengan lagak slebor. Rupanya mereka habis minum-minum sampai mabuk.
Beberapa orang bahkan terpeleset manakala menuruni tangkis, tapi lalu berdiri lagi. Beberapa temannya yang lain menertawakan dengan suara tawa bagai kuntilanak.
“Hmmm… kurang ajar sekali mereka berani-berani berlaku adigang adigung adiguna di tanah Negara orang lain.”
Tatkala Dimas Khavid bersimpangan dengan orang-orang Portugis itu, ia memandang tajam dan muak kepada mereka, sehingga salah satu yang paling sangar berhenti dan menghardik Dimas Khavid dalam bahasa Portugis yang tidak dimengerti Dimas Khavid, tapi bagi dia sudah cukup membuat darah mudanya naik. Lalu, tanpa pikir panjang, ia meloncat dan menampar wajah orang asing yang tinggi besar itu.
Segera saja semua temannya berbalik dan mengepung Dimas Khavid. Pedang-pedang panjang mereka dihunus. Dimas Khavid mencabut kerisnya dan bersiap menghadapi pertarungan.
“Basta!’’ umpat si Portugis yang tadi ditampar Dimas Khavid dan segera saja menyerang dengan tusukan pedangnya. Akan tetapi, tusukan pedang orang yang mabuk tidak begitu berbahaya, dan justru Dimas Khavid dengan gampang mengelak dan menyarangkan tendangan ke lambung si Portugis hingga terjengkang dan pedangnya terlepas dari tangannya.
Teman-temannya yang lain dengan segera mengeroyoknya, tapi Dimas Khavid melenting tinggi dan menapak di tanah tebing tangkis yang lebih tinggi sehingga posisinya lebih menguntungkan.
Orang-orang Portugis itu saling pandang satu sama lain, menyaksikan cara melompat Dimas Khavid yang di luar nalar mereka. Memang mereka sudah sering mendengar pembicaraan para pelancong Barat yang kembali dari perjalanan jauh keliling belahan Timur dunia, dan menurut mereka orang-orang Timur itu sangat aneh-aneh. Ada yang sangat primitif, tetapi sangat kaya dengan ritual upacara adat yang mengandung nilai seni tinggi. Sifat mereka jujur, polos, namun kalau sudah marah, tidak segan-segan menggunakan penyelesaian bunuh-membunuh.
Sedangkan di masyarakat yang sudah agak beradab di mata orang-orang Barat itu, penduduknya mempunyai kemampuan berkelahi yang aneh, seakan kekuatan mereka didukung tenaga gaib dari jin dan setan.
Beberapa kali mereka menemui para pendekar silat yang mempunyai kemampuan berkelahi sedemikian mengagumkan. Beberapa kali mereka berselisih dengan pendekar-pendekar semacam itu di perjalanan. Cara yang mereka tempuh untuk segera menyelesaikan pertempuran adalah dengan cara mengeroyok habis-habisan, mengerahkan seluruh awak perahu yang berjumlah tiga puluh orang. Dengan berbagai taktik dan cara, biasanya mereka baru mampu mengalahkan pendekar silat itu atau paling tidak bisa mencederai si pendekar, sehingga si pendekar lari menyelamatkan diri. Itu pun di pihak Portugis biasanya jatuh satu atau dua orang korban.
Kini, di hadapan mereka ada sosok seperti para pendekar yang beberapa kali pernah mereka hadapi. Akankah si pendekar itu dihadapi dengan mengerahkan seluruh awak perahu?
Para prajurit-pelaut itu memandang pemimpin mereka, Kapten Alphonso Macapagal, seakan meminta keputusan. Tapi Kapten Alphonso menyuruh anak buahnya untuk mencoba dulu kekuatan si pendekar yang masih muda belia itu.
Maka mereka pun kembali mengeroyok Dimas Khavid, tapi karena posisi Dimas Khavid yang menguntungkan, ia berjumpalitan kembali, dan tepat di belakang seorang prajurit kapal Portugis, ia menusukkan kerisnya di punggung prajurit itu sehingga tersungkur dan meninggal dunia di tlatah pasir jauh dari negerinya.
“Basta!” umpat Kapten Alphonso dengan kemarahan yang meluap, ia segera memanggil para prajurit yang di atas kapal.
Terlihat semua prajurit bersiap di atas kapal dan kelihatannya sejak tadi mereka menonton pertempuran itu. Terlihat pula dua bangsawan dan tamunya, Sayyid Said, berwajah tegang.
Kapten Alphonso kembali berseru nyaring memanggil semua prajuritnya, tetapi tampak bahwa semua prajurit itu kebingungan. Rupanya terjadi perdebatan sengit di atas kapal antara para prajurit itu dengan dua bangsawan tadi. Dua bangsawan Eropa tersebut melarang keras keterlibatan para prajurit dalam pertempuran itu, sebab pendekar muda yang sedang dikeroyok kapten kapal beserta anak buahnya itu adalah tamu yang baru saja saling bertukar tanda mata dengannya.
Kapten Alphonso kembali marah bukan buatan melihat pembangkangan anak buahnya, ia menyumpah-nyumpah mengutuk dan berjanji akan memberi mereka hukuman.
Dengan demikian, perkelahian terhenti. Dan Kapten Alphonso memerintahkan anak buahnya memanggul mayat prajurit yang meninggal itu, sementara ia dengan geram bergegas menuju kapal dan berteriak-teriak marah.
Dimas Khavid segera menyarangkan kerisnya kembali dan melanjutkan langkahnya untuk pulang.
Basri menyambutnya, dan terheran-heran demi melihat tuannya berwajah sedemikian tegang. Basri menanyakan adakah sesuatu yang terjadi dan apakah kejadian itu sedemikian gawat.
“Aku habis berselisih dengan para prajurit yang mabuk dan salah satunya terbunuh oleh kerisku. Apakah mereka akan menuntut balas dan menyerbu kemari, Basri?”
“Kalau begitu kita harus bersiap, Denmas. Akan kusuruh Achad mengumpulkan para santri dan jamaahnya yang pandai bersilat, dan mereka akan berjaga-jaga di sini menunggu kemungkinan serangan dari orang-orang kapal.”
“Bagus juga usulmu itu, Basri. Nah, segera persiapkan orang-orang. Ah, seandainya saja Kangmas Sendang Drajat masih di sini, permainan ini akan sangat seru, apalagi ini adalah peperangan melawan kaum kafir. Ini adalah peperangan jihad fi sabilillah.”
Sementara Basri menghubungi Achad, dan Achad segera mengumpulkan anak buahnya, Dimas Khavid menunaikan shalat Dzuhur dan berdo'a memohon kemenangan dalam pertempuran. Ia bersujud sangat lama menjelang takhiyat akhir dalam shalatnya, memohon kekuatan dan perlindungan kepada Allah Swt.
Jam dua siang, ketika matahari mulai tergelincir ke barat, dua puluh orang makmum pengajian Kyai Ali Amin, yang rata-rata juga pandai bersilat (karena Kyai Ali di samping mengajarkan ilmu agama juga ilmu silat dan ilmu-ilmu kekebalan), sudah berkumpul di serambi muka yang sangat lebar dan luas itu. Mereka bergabung dengan para santri yang belajar di padhepokan Kyai Ali Amin.
Mereka menjaga rumah kyainya itu dari kemungkinan penyerbuan orang-orang asing yang mereka anggap kafir dan peminum itu. Simul dan Ramlani sibuk menyuguhkan wedang jahe gula Jawa dan rebusan ketela yang digarami.
